http://prianganpos.com/wp-content/uploads/2014/05/Logo-Pripos-FIXED.png


Recent Posts


 

(foto: viva.co.id)

Ketika John Wick Melawan Cecep dan Yayan

Luar biasa! Aktor sekelas Keanu Reeves ternyata mau bersanding dengan Kang Cecep dan Kang Yayan, aktor laga asal Garut. Tak tanggung-tanggung, pertemuan mereka di film kelas dunia John Wick 3: Parabellum

Ya, film sequel ke-3  John Wick ini mampu menghipnotis penontonnya karena ketegangannya tak kalah dibanding sequel 1 dan 2.  Namun, di sini ada kesan  John Wick mendapatkan upgrade. Selain adegan laga yang nyaris sempurna, merakit senjata secara cepat, membuat keputusan menembak yang jitu dan hal-hal lainnya yang sudah biasa dilakukan John Wick.

Jika di dua filmnya sebelumnya, John Wick selalu memanfaatkan keahlian naturalnya sebagai pembunuh.  Namun, di film John Wick: Chapter 3 – Parabellum ia tidak hanya sebagai “Baba Yaga” . John Wick jauh lebih cerdas di film ini.

Ia masih cool, namun punya sentuhan yang jauh lebih elegan dengan sisipan dark humor yang terpancar dari mimik wajahnya. John Wick tak lagi hanya seorang pempunuh yang dihantui dari masa lalu. Ia masih marah, namun menyelesaikannya dengan taktik.

John Wick bukan satu-satunya penjahat berkelas yang tampil di film ketiga ini. Masih ada penampilan Winston (Ian McShane), Zero (Mark Dacascos) yang memanaskan suasana. Semuanya menyatu dalam ramuan cerita dan konflik-konflik yang berbeda dari dua film sebelumnya. Ah, tentu saja ada dua nama aktor Indonesia Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian yang juga tampil berkelas. Tentu saja film ini bahkan menggunakan dialog berbahasa Indonesia yang dibalas dengan bahasa Indonesia oleh John Wick.

Sebagai sutradara, sejak di film pertama Chad Stahelski sudah berhasil memposisikan dirinya sebagai dan representasi John Wick. Pembunuh yang disegani, sahabat yang luar biasa sekaligus rival dan lawan yang menakutkan. Ibaratnya, jangan sembarangan ceng-cengan dengan John Wick.

Di film kedua, tempo sedikit menurun. Ada selipan drama yang menempatkan John Wick. Di film ketiga, tempo kembali dinaikkan. Tanpa basa-basi. Sejak pertama kali diputar, film ini sudah mengajak penonton untuk menghela nafasnya.

Mungkin itu alur yang ingin dibangun oleh Chad Stahelski di tiga filmnya. Khusus bagian John Wick: Chapter 3 – Parabellums, ia menyelipkan ketegangan tanpa henti dan tentu kejutan-kejutan yang tak terduga. Salah satu kekuatan dari film ini adalah bagaimana konfliknya.

Jika di dua filmnya konfliknya yang bunuh-bunuhan maka kali ini konflik dibuat berlipatganda. Melibatkan banyak karakter. Nama-nama The Adjudicator, The Elder hingga Sofia (Halle Berry) membuat film ini terasa bercabang, namun tidak menyimpang dari cerita utamanya, yaitu bagaimana John Wick melarikan diri setelah diputuskan Excomunicado.

Semuanya dibangun dengan kecepatan tinggi dan tanpa basa-basi.

Adegan brutal? Tentu saja ada. Jika tidak ada, bukan John Wick namanya. Namun, kali ini terasa lebih berkelas. Satu lagi, satu adegan di bagian akhir akan menimbulkan pertanyaan apakah John Wick: Chapter 3 – Parabellum jadi film terakhir atau masih akan dilanjutkan dengan John Wick 4? (bookmyshow/sani)

Tips Menghindari Sikap Hedon dan Konsumtif

Menurut Collins Gem hedonisme adalah sebuah doktrin yang menyatakan bahwa kesenangan merupakan hal paling penting dalam hidup. Dengan kata lain, hedonisme adalah paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan hidup semata-mata. Paham ini kini semakin banyak dianut masyarakat, terutama kalangan berduit yang menganggap kesenangan hidup nomor satu. Akibatnya, cara mereka mencari uang pun sering menabrak rambu-rambu. Setelah mendapatkannya lantas membelanjakannya sesuka mereka, yang penting senang. Akhirnya mereka terjerat menjadi konsumerisme. 

Nah, ada beberapa tip agar  Anda tidak terjerumus dalam lubang konsumerisme, yakni

Pertama, cermat menggunakan kartu kredit. Mempunyai kartu kredit era sekarang itu penting. Hampir setiap orang ingin mempunyai kartu kredit dengan beragam pilihan. Meskipun pembayarannya dengan cara mencicil tapi menggunakan kartu kredit sama juga dengan berhutang. Berhutang ya selamaya harus membayar. Untuk itu harus cermat menggunakan kartu kredit. Belilah yang kita butuhkan, bukan membeli yang kita inginkan.

Kedua, usahakan bisa menabung dan investasi. Setelah menerima gajian (misalnya) biasanya Anda membayar listrik, air PAM, berbagai cicilan dan lainnya. Jika masih sisa maka sisihkan untuk ditabung. Uang di tabungan mudah ditarik lagi, apalagi bila suatu saat kita kepepet. Selain ditabung, jika masih sisa usahakan berinvestasi. Investasi ini gunanya untuk masa depan sehingga jika sudah memasuki usia pensiun masih punya kesempatan mendapatkan pemasukan dari asset yang sudah dibangun. Dari sekarang mulailah memilih antara memperbanyak asset atau lilibilitas. Asset adalah sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan (pemasukan). Sementara lialibilitas merupakan sesuatu yang menghamburkan uang.

Ketiga, membuat daftar prioritas kebutuhan. Hal ini yang sering diabaikan. Membeli kebutuhan pribadi atau keluarga sebaiknya dibuat skala prioritas. Caranya dengan membuat daftar barang yang kita butuhkan saja. Sesuatu yang belum kita butuhkan sebaiknya ditunda dulu.

Keempat, membuat anggaran keuangan. Membuat anggaran keuangan akan membuat kita cermat membelanjakan uang karena bisa mengerem manakala ternyata ada anggaran yang tidak tertulis. Usahakan anggaran yang kita buat memuat pemasukan pengeluaran dan biaya tak terduga. Jangan sampai pengeluaran lebih besar dibanding pemasukan.

Kelima, bersedekah sekecil apa pun. Biasakan sedekah kepada tempat ibadah, panti sosial, atau orang yang perlu bantuan. Dalam kajian agama apa pun jika seseorang bersedekah maka uangnya akan bertambah, bukannya berkurang. Tapi ini soal keyakinan. Jika kita yakin dengan banyak bersedekah kita akan bertambah rezeki maka mulai sekarang perbanyak sedekah.(sani)

 

@2019 Pripos.id, ALL RIGHT RESERVED