Follow US: 

Pripos.id
  • Home
  • Berita Nasional
  • Artikel
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Berita Daerah
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Iptekni
  • More
    • Sosial Politik
    • Manajemen
Reading: Menjadi Manusia di Era Algoritma: Membaca “Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi”
Share
Font ResizerAa
Pripos.idPripos.id
Search
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Resensi Buku

Menjadi Manusia di Era Algoritma: Membaca “Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi”

By Kontributor Prpos 5 Min Read Published May 28, 2026
Share
DI ERA ketika manusia lebih sering menyentuh layar daripada berjabat tangan, satu pertanyaan penting layak diajukan: sejauhmana kita benar-benar memahami kehidupan digital yang kita jalani setiap hari? Kita bangun tidur membuka telepon genggam, bekerja dengan perangkat digital, mencari hiburan di media sosial, hingga membangun relasi melalui platform virtual. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah teknologi hanya alat, atau ia sudah menjadi ruang hidup baru manusia?
Judul Buku: Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi

Judul Buku: Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi
Penulis: Dr. Kiki Zakiah, M.Si
Penyunting: Askurifai Baksin
Penerbit: CV. Mediamore Karya Optima
Cetakan: Pertama, Juni 2026

DI ERA ketika manusia lebih sering menyentuh layar daripada berjabat tangan, satu pertanyaan penting layak diajukan: sejauhmana kita benar-benar memahami kehidupan digital yang kita jalani setiap hari? Kita bangun tidur membuka telepon genggam, bekerja dengan perangkat digital, mencari hiburan di media sosial, hingga membangun relasi melalui platform virtual. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah teknologi hanya alat, atau ia sudah menjadi ruang hidup baru manusia?

Pertanyaan reflektif tersebut menjadi pintu masuk utama di buku Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi karya Dr. Kiki Zakiah, M.Si. Buku ini hadir di saat yang tepat—ketika masyarakat semakin tenggelam dalam kehidupan digital tetapi belum sepenuhnya memahami implikasi sosial, budaya, politik, dan komunikatif yang ditimbulkannya. Alih-alih sekadar membahas teknologi dari sisi teknis, penulis mengajak pembaca memahami dunia digital sebagai realitas sosial yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan membangun identitas dirinya.

Kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya memadukan perspektif sosiologi dan ilmu komunikasi dalam membaca fenomena digital. Pembaca diajak menyelami isu-isu penting yang selama ini terasa dekat tetapi sering kali luput dipertanyakan. Mengapa iklan yang muncul di media sosial terasa terlalu mengenal kebutuhan kita? Mengapa algoritma seolah mengetahui apa yang sedang kita pikirkan? Apakah data pribadi kita masih sepenuhnya milik kita sendiri? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadi benang merah pembahasan buku.

Dalam bab-bab awal, Dr. Kiki Zakiah mengupas secara mendalam persoalan privasi digital, pengawasan, dan kekuasaan di masyarakat digital. Pembahasan ini terasa sangat relevan di tengah maraknya kebocoran data, personalisasi iklan, dan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap platform digital. Penulis menunjukkan bahwa kehidupan digital tidak pernah benar-benar netral. Di balik kenyamanan layanan gratis, terdapat proses pengumpulan data yang masif dan mekanisme pengawasan yang sering kali tidak disadari pengguna. Kehidupan digital, dalam banyak hal, ternyata adalah ruang negosiasi antara kenyamanan, kebebasan, dan kontrol sosial.

Namun, buku ini tidak terjebak dalam narasi pesimistis tentang teknologi. Sebaliknya, penulis menghadirkan pembacaan yang lebih seimbang. Dunia digital dipahami sebagai ruang penuh peluang sekaligus tantangan. Misalnya dalam pembahasan mengenai pendidikan digital, buku ini mengulas bagaimana teknologi membuka akses pendidikan secara lebih luas, tetapi di saat bersamaan juga memunculkan ketimpangan digital, persoalan etika, hingga komersialisasi pendidikan berbasis platform. Perspektif semacam ini penting karena membantu pembaca melihat teknologi secara lebih kritis—tidak terlalu optimistis, tetapi juga tidak paranoid.

Bagian yang tak kalah menarik adalah pembahasan tentang budaya pop digital dan aktivisme media sosial. Di sini, pembaca diajak memahami bahwa meme, tren viral, influencer, hingga hashtag bukan sekadar hiburan atau fenomena sesaat. Semua itu merupakan bagian dari dinamika budaya digital yang turut membentuk identitas sosial masyarakat modern. Apa yang kita unggah, sukai, bagikan, atau komentari ternyata bukan aktivitas sederhana. Ia adalah praktik budaya yang mencerminkan relasi kuasa, pembentukan identitas, bahkan arena perjuangan makna dalam masyarakat digital.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki gaya penulisan yang cukup komunikatif untuk ukuran buku akademik. Dr. Kiki Zakiah tampaknya sadar bahwa pembaca era digital membutuhkan pendekatan yang lebih dialogis. Karena itu, banyak bagian diawali dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari pembaca. Strategi ini membuat pembahasan teori tidak terasa kaku dan lebih mudah dicerna, terutama bagi mahasiswa atau pembaca umum yang baru mulai tertarik pada kajian komunikasi digital dan sosiologi media.

Tentu, seperti kebanyakan karya akademik, buku ini tetap membutuhkan konsentrasi dalam membaca, terutama pada bagian-bagian yang membahas teori dan konsep secara mendalam. Namun, justru di sanalah nilai pentingnya. Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan mengajak pembaca berpikir kritis tentang bagaimana teknologi bekerja dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi bukan sekadar buku tentang internet, media sosial, atau teknologi digital. Ia adalah buku tentang manusia—tentang bagaimana identitas dibentuk, bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana budaya diproduksi, dan bagaimana relasi sosial berubah di tengah dominasi layar dan algoritma.

Bagi mahasiswa komunikasi, sosiologi, media, pendidikan, maupun kajian budaya, buku ini layak menjadi referensi penting. Sementara bagi masyarakat umum, buku ini dapat menjadi semacam “peta” untuk memahami dunia digital yang selama ini kita gunakan, tetapi belum tentu kita pahami sepenuhnya.

Karena mungkin, persoalan terbesar di era digital bukanlah terlalu banyak teknologi—melainkan terlalu sedikit manusia yang memahami bagaimana teknologi membentuk kehidupannya.***

12Next Page
TAGGED:#SosiologiDigital #KehidupanDigital #KomunikasiDigital #LiterasiDigital #BudayaDigital #MediaSosial #MasyarakatDigital #AlgoritmaDigital #PrivasiDigital #ResensiBuku
Share This Article
Facebook Twitter Email Copy Link Print
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HOT NEWS

Fakultas Dakwah Unisba Perkuat Jejaring Islam lewat Kunjungan Strategis ke Lombok
Delegasi Unisba dalam kunjungan ini melibatkan sejumlah pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan I Muhammad Fauzi Arif, S.Sos.I., M.I.Kom., Wakil Dekan II Dr. Nia Kurniati, Dra., M.Si., Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Malki Ahmad Nasir, S.Ag., M.Irk., Ph.D., serta jajaran Badan Penjaminan Mutu.(foto: komhumas unisba)

Fakultas Dakwah Unisba Perkuat Jejaring Islam lewat Kunjungan Strategis ke Lombok

KOTA BANDUNG, PRIPOS.ID – Dalam semangat memperluas kolaborasi dan memperkuat sinergi antarperguruan tinggi Islam, Fakultas…

June 2, 2025
FK Unisba Buka Open House USM Gelombang 2 TA 2025/2026, Teguhkan Komitmen Akademik dan Spirit Islam
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menggelar kegiatan Open House untuk jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) melalui Ujian Saringan Masuk (USM) Gelombang 2 Tahun Akademik 2025/2026.(foto: komhumas unisba)

FK Unisba Buka Open House USM Gelombang 2 TA 2025/2026, Teguhkan Komitmen Akademik dan Spirit Islam

KOTA BANDUNG, PRIPOS.ID — Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menggelar kegiatan Open House untuk…

June 2, 2025
Peluncuran Berita Pilihan Google melibatkan 34 penerbit nasional dan lokal. Lewat program ini, pembaca disuguhi konten berita yang telah dikurasi dan dilisensikan secara resmi, yang langsung diarahkan ke situs masing-masing media. Sebagai bagian dari kemitraan, Google memberikan kompensasi kepada para penerbit guna menunjang keberlanjutan produksi berita mereka.(foto: ist)

AMSI Sambut Hangat Google News Showcase, Serukan Platform Digital Lain Segera Ikut Ambil Peran

JAKARTA, PRIPOS.ID — Langkah Google meluncurkan News Showcase atau Berita Pilihan di Indonesia pada Rabu…

June 2, 2025

Follow US: 

Copyright ©Pripos.id 2024 – Semua Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

  • Tentang Kami
  • Disklaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami
Reading: Menjadi Manusia di Era Algoritma: Membaca “Sosiologi dan Kehidupan Digital dalam Perspektif Komunikasi”
Share
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?