BBUSKP Implementasikan Biosensor di Karantia Cilegon.

Cilegon, Banten, Pripos.id (09/01/2020) – Camera Thermal Infrared (CTI) yang tengah dikembangkan oleh Karantina Uji Standar (BBUSKP) memasuki babak baru. Setelah dilakukan validasi dan verifikasi, secara scientific CTI dinyatakan dapat digunakan untuk membantu tindakan karantina hewan di lapangan. CTI mampu mendeteksi adanya kenaikan suhu pada hewan penular rabies (HPR) sehingga dapat menjustifikasi pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorik. Sebelum diterapkan secara menyeluruh, perlu dilakukan evaluasi terhadap efektifitas dan efisiensi penggunaan CTI di lapangan. Karantina Cilegon dengan lalu lintas HPR tertinggi di Indonesia menjadikan tempat ideal untuk implementasi awali. Lalu lintas HPR terutama anjing di Pelabuhan Merak tidak pernah sepi. Setidaknya ada tiga kali pengiriman dalam seminggu bahkan per hari dalam kondisi tertentu. Anjing diangkut menggunakan mobil muatan dengan kapasitas berkisar 30 – 70 ekor.

Badan Karantina Pertanian melalui Karantina Cilegon bersiaga 24×7 untuk mencegah penularan penyakit baik hewan maupun tumbuhan antara Jawa dan Sumatera. Fokus pada persoalan rabies Karantina Cilegon mempersyaratkan anjing yang dilalu lintaskan harus sudah divaksin paling tidak 2 minggu sebelum keberangkatan. Hal ini dibuktikan dengan buku vaksin dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan dari dinas daerah asal. Anjing yang dikirim akan kembali dilakukan pemeriksaan fisik oleh petugas karantina. Pengambilan contoh uji juga dilakukan untuk pemeriksaan terhadap rabies secara laboratorik. “Tidak semua anjing kami ambil darahnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorik. Pengambilan contoh uji dilakukan dengan sampling metode acak.” Jelas Ismu, koordinator fungsional karantina hewan Cilegon.

Hingga saat ini pemeriksaan terhadap rabies secara pasti hanya dapat dilakukan secara laboratorik. Pemeriksaan di lapangan seperti fisik dan gejala klinis hanya menjadi screening awal. Permasalahannya, contoh uji yang diambil belum tentu merepresentasikan seluruh populasi yang akan dikirim. Untuk itu diperlukan justifikasi ilmiah terhadap metode pengambilan contoh uji sehingga dapat dilakukan secara purposif dan tepat.

“Pengambilan contoh uji secara acak masih memiliki potensi adanya anjing pembawa rabies yang lolos. Kami harap dengan penggunaan CTI, contoh uji data dikerucutkan kepada anjing yang menunjukkan peningkatan suhu. Peningkatan suhu tersebut merupakan gejala awal terhadap adanya infeksi suatu penyakit. Jadi harapannya dengan mengambil contoh uji pada anjing demam kami dapat mendeteksi penyakit secara tepat,” lanjut Ismu.

Helmi, Ketua Tim Pengembangan Biosensor CTI BBUSKP menjelaskan, “Alat ini hanya screening awal terhadap adanya penyakit. Kalau ada yang dicurigai melalui pemeriksaan CTI sebaiknya diambil sampelnya untuk pemeriksaan laboratorik. CTI akan membantu petugas di lapangan untuk menentukan sampel yang tepat.”

Tim Pengembangan Biosensor CTI menjelaskan secara detail tentang cara penggunaannya kepada petugas Cilegon. Kelebihan dan kekurangan CTI juga dijelaskan sehingga petugas dapat mengkondisikan seoptimal mungkin.

“Alat ini (CTI) memiliki beberapa kelemahan pada beberapa kondisi seperti angin kencang dan cuaca ekstrim. Alangkah baiknya, sebelum diimplementasikan di seluruh UPT kami lakukan penjajakan dulu di lapangan. Alat ini akan kami titipkan sementara di Cilegon untuk membantu tindakan karantina. Kami akan nilai kesesuaian implementasinya di lapangan. Semoga hasilnya sesuai yang diharapkan,” jelas Risma Silitonga selaku Kepala Bidang Pelayanan Pengujian Karantina Uji Standar.

“Karantina Cilegon sangat mengapresiasi pengembangan CTI, ini hal baru. Kita akan lihat hasil implementasinya di lapangan. Sekiranya dapat membantu petugas seperti yang diharapkan, kami akan dukung untuk pengembangan selanjutnya di seluruh UPT,” tambah Raden Kepala Balai Karantina Cilegon.(nor)

Categories: Berita Daerah

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Pripos.id