Dalam kegiatan tersebut, masyarakat memperoleh edukasi mengenai pemanfaatan Toga seperti jahe dan pare, serta tanaman berkhasiat lainnya seperti kayu manis. Berbagai tanaman tersebut diketahui mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan metabolik. Jahe mengandung gingerol yang berperan sebagai antioksidan dan antiinflamasi, sedangkan buah pare mengandung charantin dan polipeptida-P yang berpotensi membantu menurunkan kadar glukosa darah. Selain itu, kayu manis mengandung senyawa sinamaldehid dan polifenol yang berpotensi meningkatkan sensitivitas insulin, serta membantu menjaga kestabilan kadar gula darah.
Selain memperkenalkan pemanfaatan tanaman berkhasiat, peserta juga mendapatkan pelatihan pengolahan ubi ungu menjadi tepung tinggi pati resisten melalui metode retrogradasi. Dalam kegiatan ini, tim pengabdian memperkenalkan konsep pati resisten (resistant starch) sebagai salah satu komponen pangan fungsional yang berperan sebagai prebiotik. Berbeda dengan pati pada umumnya, pati resisten tidak tercerna di usus halus sehingga dapat menjadi sumber nutrisi bagi bakteri baik di usus besar dan membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan. Ubi ungu dipilih karena mengandung antosianin sebagai antioksidan alami serta berpotensi menghasilkan pati resisten dalam jumlah yang lebih tinggi setelah melalui proses retrogradasi. Melalui pengolahan tersebut, ubi ungu dapat dikembangkan menjadi pangan fungsional yang berpotensi membantu mengendalikan lonjakan gula darah, mendukung kesehatan metabolik, serta berkontribusi dalam upaya pencegahan Diabetes Melitus Tipe II.


