Dari Indonesia Senegal Menimba Ilmu Bioteknologi

BANDUNG, PRIPOS.ID (3/12/2019) –  Satu lagi negara anggota OKI yaitu Senegal melalui Institut Pasteur de Dakar akan mengikuti program Reverse Linkage (RL) yang diselenggarakan oleh Islamic Development Bank (IsDB) , Bappenas, Kemenkes, BPOM dan Bio Farma, pada tanggal 2 – 6 Desember 2019 dengan tema Development of A Reverse Linkage Project Between Senegal (Institute Pasteur de Dakar) and Indonesia (Bio Farma) in Vaccine Production.

Sebelumnya pada tahun 2018, telah dilaksanakan acara dengan program yang sama untuk negara Maroko dan Tunisia.

Menurut Slamet Soedarsono Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan Bappenas, Program Reverse Linkage merupakan kerja sama pembangunan antara IsDB dan sesama negara anggota IsDB yang memiliki kemampuan dalam menyediakan keahlian teruji, pengetahuan (know-how), penerapan teknologi, serta best practices yang berorientasi pada hasil untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi dan sosial.

“Indonesia memiliki keahlian dalam bidang Bioteknologi, bahkan sudah diakui secara global yakni melalui BUMN famasi yaitu Bio Farma. Bio Farma akan membagikan pengalamannya untuk membuat vaksin yang berkualitas sesuai dengan ketentuan dan standar dari WHO, dan inti dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan kemandirian dikalangan negara-negara Islam,” ujar Slamet Soedarsono.

Sementara itu Direktur Operasi Bio Farma M. Rahman Rostan mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih kepda pihak Pemerintah dalam hal Kemenkes dan BPOM karena melaui dua lembaga tersebut produk Bio Farma bisa digunakan di Lebih dari 140 negara.

“Kolaborasi selama ini yang dijalankan baik oleh Kemkes maupun BPOM telah membawa Bio Farma menjadi rujukan untuk membuat vaksin yang sesuai dengan standar dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), karena Kepercayaan global terhadap vaksin RI bukan hanya karena Industrinya yg sudah memenuhi kualitas global, juga karena fungsi pengawasannya dari NRA/ BPOM yang sudah memenuhi standard internasional dan mendapat pengakuan dari WHO,” papar Rahman.

Rahman menambahkan kerjasama dengan Kemkes RI selama ini pun sudah berjalan dengan baik, terutama dari sisi penyediaan vaksin untuk kebutuhan vaksin dalam negeri dan juga penunjukan Bio Farma sebagai Laboratorium rujukan untuk negara OKI oleh Kemenkes RI saat Indonesia ditunjuk sebagai CoE oleh OIC pada Desember 2017 yang lalu.

Diharapkan, dalam jangka panjang program RL, Bio Farma bisa mengirimkan para penelitinya ke negara OIC dan negara Afrika lainnya, untuk berbagi ilmu dan pengetahuan sehingga negara-negara Afrika akan mampu secara mandiri menghasilkan vaksin yang berkualitas untuk negaranya masing-masing sehingga program SDGs 2030 dapat tercapai yaitu penekanan angka kematian bayi dan ibu hamil serta pemerataan access to medicine bisa tercapai. (Pun/ask)

Categories: Berita Daerah

Pripos.id