Desa Wisata Saung Ciburial Gairahkan Ekonomi Perdesaan

KABUPATEN GARUT, PRIPOS.ID (26/12/2021) – Dilatarbelakangi masih rendahnya pelaku usaha wisata merespons peluang wisata halal karena dianggap sulit dan high cost. Juga belum terbentuknya ekosistem wisata halal yang jelas, kondusif,dan suistanable (keberlanjutan). Selain itu masih rendahnya SDM terkait dengan wisata halal, termasuk pelaku usaha lokal dan aparatur di perdesaan. Serta adanya kesenjangan yang menunjukkan perbedaan persepsi, pemahaman, kesadaran para pemangku kepentingan tentang konsep wisata halal maka LPPM Unisba (Universitas Islam Bandung) gelar PKM bertema pengembangan desa wisata halal di Saung Ciburial Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Rabu (22/12/21).

Kepala Desa Sukalaksana Oban Sobana (alumni Fakultas Dakwah Unisba) dalam sambutannya mengatakan bahwa selama ini Unisba sudah banyak bekerjasama dengan Desa Sukalaksana. Diantara dengan Fakultas MIPA yang membantu membuat formula Kopi Akar Wangi yang merupakan campuran antara kopi Desa Sukalaksana dan akar wangi sehingga menjadi produk lokal unggulan Saung Ciburial.

Selain itu desa wisata yang dinobatkan menjadi desa wisata kedua se-Nusantara ini mengunggulkan Teh Kewer sebagai oleh-oleh khas daerahnya. Sensasi Teh Kewer ini pada sensasinya yang mirip kopi. Dua produk inilah yang kini menjadi komoditas yang dikembangkan warga sehingga mampu menggairahkan ekonomi perdesaan.

Ketua PKM Prof. Dr. Atie Rachmiati menjelaskan tentang Mastercard (2019) dan Pedoman Pariwisata Halal Jabar yang implementasinya pertama need to have, yakni pariwisata ramah muslim dan kebutuhan dasar wisatawan muslim, yaitu tersedianya makanan dan minuman halal, adanya sarana dan prasarana ibadah sholat, tersedianya tempat bersuci yang difasilitasi dengan air dan tidak adanya Islamophobia.

Kedua, good to have, yakni pariwisata kondusif untuk kebutuhan yang baik dan disediakannya bagi wisatawan muslim, diantaranya  adanya kesempatan atau fasilitas untuk membuat lingkungan sekitar lebih baik, layanan saat bulan Ramadan, dan tersedia pengalaman khas dengan muslim di sekitar destinasi pariwisata.

Ketiga, nice to have, yaitu pariwisata yang memenuhi kaidah Islam, kebutuhan yang sangat baik jika disediakan untuk wisatawan muslim, diantaranya  tersedianya tempat wisata atau rekreasi yang memiliki kebebasan/ keleluasaan, tersedianya pelayanan bagi produk-produk atau fasilitas yang mengikuti panduan agama (halal).

Digitalisasi Usaha Wisata

Selain Atie Rachmiati, kegiatan PKM ini juga melibatkan narasumber dosen FEB Unisba Dr. Pupung Purnamasari yang menjelaskan literasi bisnis dan literasi keuangan di usaha wisata. Menurut Pupung, di era digital saat ini keberhasilan digitalisasi dapat diukur melalui beberapa faktor,  yakni otomatisasi bisnis, pemasaran yang masif,  pelayanan melalui media internet bagi anggota/ pelanggan, monitoring bisnis dilakukan secara realtime, data yang dimiliki mampu diolah untuk memperbesar bisnis, bisnis terus berjalan tanpa batas waktu dan tempat, efisiensi pada biaya operasional dan biaya marketing, dan omzet serta profit yang timbul akibat penerapan digitalisasi.

“Ada beberapa hal yang bisa didigitalisasi. Pertama, manajemen bisnis yang meliputi tata kelola usaha, database, dan laporan keuangan. Kedua layanan usaha, yang meliputi pelayanan anggota dan pelayanan mitra usaha. Ketiga, branding dan promosi usaha meliputi pubikasi online, publikasi media social, dan SEO (search engine optimization). Keempat penjualan, yang di dalamnya ada e-money/ payment, online store, e-commerse, dan katalog online,” jelas Pupung.

Di bagian lain narasumber dosen Fikom Unisba Dr. Ani Yuningsih mengupas perihal humas pemasaran produk dan destinasi wisata. Menurutnya,  tujuan komunikasi pemasaran untuk menyebarkan informasi (komunikasi informatif), memengaruhi untuk melakukan pembelian atau menarik konsumen (komunikasi persuasif), dan mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang (komunikasi untuk mengingatkan kembali).

“Ada empat kategori konsumen pariwisata, yakni penduduk (warga), perusahaan, wisatawan, dan investor. Sering dalam urusan pariwisata ini muncul kasus-kasus branding pariwisata kota dan kabupaten di Indonesia., yakni  belum konsisten, belum berkesinambungan, bergantung pada kebijakan pimpinan, belum berlandaskan pada brand eccense (brand focus), belum diinternasasikan di dalam mindset warga,” jelas Ani.

Untuk mendorng agar warga Desa Sukalaksana menjadi duta wisata atau humas Saung Cibural maka dosen Fikom dan praktisi media Askurifai Baksin menjelaskan secara praktis bagaimana menjadi content creator melalui blog dan vlog. Kedua media socsial ini cukup ampuh membangun branding Saung Ciburial, selain facebook dan IG.(sani/png)

Categories: Berita Daerah,Hiburan dan Gaya Hidup,Iptekni

Tags: ,,,,,,,

Leave A Reply

Your email address will not be published.