Di Indonesia, Kanker Menjadi Penyebab Dari 207.210 Kasus Kematian Sepanjang Tahun 2018

JAKARTA, PRIPOS.ID (24/02/2021) – Saat ini penyakit tidak menular, termasuk kanker menjadi masalah kesehatan utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, terdapat 9,6 juta kasus kematian pada 2018 yang disebabkan oleh kanker. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2008 yang tercatat sebanyak 7,6 juta kasus kematian. Diprediksi, kematian akibat kanker pada tahun 2030 akan mencapai 13 juta kasus. Jumlah kasus baru penderita kanker bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi pada 2018. WHO mempublikasikan terdapat 328.809 kasus baru yang di antaranya terdiri dari kasus kanker payudara (16,7 persen), serviks uteri (9,3 persen), dan paru-paru (8,6 persen).

Di Indonesia, kanker menjadi penyebab dari 207.210 kasus kematian sepanjang 2018. Kanker paru-paru, payudara, dan serviks uteri menjadi jenis kanker yang paling banyak diderita. Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk. Sedangkan angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. (HC). Dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menyebutkan juga dalam paparannya pada acara _Health Talk_ Lindungi Diri dan Keluarga dari Kanker Serviks,” Gambaran di Indonesia proporsi kasus kanker di RS. Kanker Dharmais Tahun 2018, kanker serviks berada di juara 2 sebesar 10,69 persen dari kasus kanker setelah kanker payudara, ucap hasto. Insiden kanker serviks sebenarnya dapat ditekan dengan melakukan upaya pencegahan primer seperti meningkatkan atau intensifikasi kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat, menghindari faktor risiko terkena kanker, melakukan immunisasi dengan vaksin HPV dan diikuti dengan deteksi dini kanker serviks tersebut melalui pemeriksaan pap smear atau IVA (inspeksi visual dengan menggunakan asam asetat),” tambah dokter Hasto (24/02/2020).

“Jadi bagian dari pemicu kanker serviks karena kurangnya menjaga kebersihan ya Ini dari 8 faktor 6 faktornya ini pelaku seks, merokok juga menjadi bagian penting karena selalu kita ingat kan di samping mahal juga bagian dari risiko terjadinya kanker mulut rahim. Kami BKKBN selalu berkampanye untuk _Three Zeros_ yaitu hindari seks pranikah, seks pada usia dini sehingga seksnya diatas 20 tahun, kemudian juga hindari narkotika, karena hampir 100 persen perempuan yang terpapar narkoba menderita kanker serviks, ungkap dokter Hasto. “BKKBN selalu menjadi sahabat keluarga dan sahabat remaja, oleh karena itu pendekatan para remaja tentang kesehatan reproduksi remaja melalui teman sebaya perlu terus dilakukan, karena remaja kalo diberitahu oleh orangtua tidak akan mendengarkan, tapi apabila diberitahu oleh teman sebaya mereka mendengarkan,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Achmad Mediana, Sp.OG juga menambahkan,” Setiap perempuan itu beresiko terkena infeksi HPV onkogenik yang dapat menyebabkan kanker serviks. Lakukan vaksinasi yang terbaik untuk kanker serviks yang jenis vaksinnya dapat memberikan perlindungan paling lama terhadap HPV yang menyebabkan kanker”, tegas dokter Achmad. “Selain itu, vaksinasi harus dilengkapi juga dengan screening yang akan mengurangi resiko kanker serviks dan lebih baik dibanding hanya dengan screening saja dan akan mengurangi jumlah screening abnormal yang akan memerlukan tindak lanjut, kanker serviks itu satu-satunya kanker yang bisa ketahuan sejak awal, sehingga bisa diciptakan vaksin”, tambah dokter Achmad.

Di sisi lain, _Department Head of Environment dan Social Responsibility_Astra Bondan Susilo menambahkan”, Kuncinya adalah pencegahan kanker serviks baik secara primer maupun sekunder dan sebagainya, terutama untuk teman-teman yang akan menikah, yang menjalankan program memiliki anak harus mempunyai awarenes atau kesadaran untuk mencegah terjadinya kanker serviks pada pasangan perempuan atau calon ibu”, imbuh Bondan.

Acara _Health Talk_ ini dilaksanakan secara virtual dan ditayangkan_Live Streaming_ melalui Youtube Channel BKKBN, Hadir juga dalam acara ini Deputi Bidang Keluarga Berencana-Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN dr. Eni Gustina, MPH selaku moderator. Acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2021 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan kanker alat reproduksi. (nor)

 

Categories: Artikel

Leave A Reply

Your email address will not be published.