Dukung Konsep Berkelanjutan, IKM Tekstil Gunakan Bahan Baku Alam

JAKARTA, PRIPOS.ID (23/04/2021) – Politeknik STTT Bandung sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi di bawah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memiliki tanggung jawab dan peran penting terhadap pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri kompeten di bidang pertekstilan. Langkah ini diwujudkan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat) serta program-program lain yang mendukung terwujudnya SDM industri yang kompeten dan berdaya saing global.

Politeknik STTT Bandung menyelenggarakan webinar dengan tema “Sustainable Textile”, yang merupakan bagian dari rangkaian acara Grand Launching 100 tahun Pendidikan Tekstil Indonesia. Bertepatan juga dengan peringatan hari Kartini 21 April 2021, acara talkshow interaktif di webinar ini, menghadirkan para narasumber dan moderator yang merupakan representasi Kartini di bidang tekstil yang telah banyak menginspirasi, terutama di bidang sustainable textile.

Mereka antara lain Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih dan Aryenda Atma selaku Founder & Creative Director of Pable.id, dan dipandu oleh Pipit F. Hayati (GM for Indonesia PT. Testex) selaku moderator.

Industri tekstil merupakan salah satu industri yang memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Namun di sisi lain, proses tekstil kerap diminta untuk menerapkan konsep ramah lingkungan oleh banyak pihak. Sustainable textile atau tekstil berkelanjutan merupakan salah satu upaya untuk menciptakan industri hijau yang ramah lingkungan. Penerapan sustainable textile sendiri telah banyak dilakukan di ranah industri kecil dan menengah (IKM).

“Kami menerapkan langkah strategis guna mendukung sustainable textile di sektor IKM, di antaranya dengan melakukan pembinaan dan sosialisasi di IKM tekstil mengenai serat alam sebagai bahan baku tekstil berkelanjutan,” ujar Dirjen IKMA Kemenperin.

Upaya ini sejalan dengan tujuan dari pembangunan industi hijau, yaitu untuk mewujudkan industri yang berkelanjutan, dalam rangka efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Lebih lanjut, Kemenperin dalam upaya mendorong industri menuju industri hijau melakukan kolaborasi pentahelix, yaitu kolaborasi lima unsur pemangku kepentingan (stakeholder), yang meliputi pemerintah, akademisi, pebisnis, komunitas dan media, yang berperan penting dalam pengembangan industri, terutama dalam industri perwarnaan alam.

“Kami juga telah bekerja sama melalui Nota kesepahaman antara Ditjen IKMA Kemenperin dengan Ditjen Perkebunan dan Badan Litbang Kementerain Pertanian, serta Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sebagai salah satu langkah strategi untuk pengembangan sektor IKM tenun melalui penyediaan bahan baku serat kapas. Masing-masing pihak mempunyai tugas dan tanggung jawab sesuai dengan tupoksi dari masing-masing Direktorat dan Pemerintah Daerah,” papar Gati.

Daur ulang limbah

Aryenda Atma menyampaikan, bersama Pable, dirinya telah menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan mendaur ulang limbah kain dan pakaian bekas menjadi kain tenun yang memiliki ciri khas #wearecircular.

“Untuk menerapkan Closed Loop System pada Ekonomi Sirkular, Pable mengekstrak nilai maksimum dari potensi limbah tekstil dengan mendaur ulang dan memprosesnya kembali menjadi material terbarukan (secondary material), sehingga dapat digunakan kembali menjadi bahan siap olah berupa kain tanpa harus mengeksploitasi material baru (virgin material),” ujar Atma.

Ia juga menjelaskan mengenai prinsip recycle-reduce-reuse yang dilakukan di Pable. “Proses ini dimulai dari proses sortir berdasarkan jenis bahan dan warna tekstil, proses pemotongan atau pencacahan secara manual maupun otomatis, proses pelembaban untuk mempekuat serat, pembuatan fiber sebagai output pertama dari olahan daur ulang, pemintalan fiber, pemintalan fiber ke benang, untuk kemudian dilakukan proses pertenunan untuk menjadi kain,” jelasnya.

Selain mendorong menuju industri hijau, sustainable textile juga memiliki potensi ekonomi yang perlu dimaksimalkan dengan rencana dan strategi yang baik. “Potensi pengolahan limbah tekstil ini masih sangat luas, dan ini memerlukan upaya serta kerjasama dari banyak pihak untuk dapat membantu serta memanfaatkan potensi dari limbah-limbah tekstil menjadi produk baru yang memiliki nilai lebih serta ciri khas tersendiri,” Atma menambahkan.

Ia menjelaskan, pihaknya menyiapkan rencana dan strategi ke depan untuk berkontribusi dalam ekonomi sirkular, mulai dari pengembangan produk, pemberian edukasi tentang ekonomi sirkular, serta melalukan pendekatan kepada korporasi. “Untuk itu, kami membutuhkan dukungan pemerintah, pelaku industri, dan juga masyarakat,” pungkasnya.(sani/png)

Categories: Ekonomi dan Bisnis

Leave A Reply

Your email address will not be published.