Flora Aquatic Menjadi Salah Satu Komoditas “Emerging” Ekspor Asal Kalbar

Pontianak, Pripos.id (15/04/2020) – Tanaman hias air biasa disebut aquatic plant atau flora aquatic, menjadi salah satu komoditas “emerging” ekspor asal Kalimantan Barat (Kalbar).

Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Pontianak mencatat selain cengkeh, jeruk, bajakah dan kopi asal Kalbar yang mulai memasuki pasar ekspor, aquatic plant adalah salah satunya.

“Selain produk pertanian yang konvensional di ekspor, melalui sinergisitas dengan berbagai pihak kita dorong produk unggulan untuk masuki pasar global,” kata Ali Jamil, Kepala Badan Karantina (Barantan) melalui keterangan tertulisnya, Selasa (14/4).

Menurutnya, hal ini sejalan dengan gerakan tigakali lipat ekspor pertanian tahun 2020 – 2024 atau Gratieks yang digagas Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red). Salah satunya dengan melalukan sinergistas dengan para pemangku kebijakan baik dipusaf maupun didaerah untuk mendorong peningkatan ekspor.

Sesuai dengan perannya, Barantan selaku fasilitator perdagangan produk pertanian dalam mendorong kebijakan strategis ini telah menyiapkan aplikasi peta potensi ekspor, iMace. Aplikasi ini dapat diakses melalui layanan klinik ekspor di seluruh unit pelaksana teknis karantina pertanian.

Harapannya ini dapat mendorong pembangunan pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor. Dan tanaman hias ini salah satu contobnya, jelas Jamil.

*Fasilitasi Ekspor*

Dari data sertifikasi ekspor di Karantina Pertanian Pontianak, tercatat tren peningkatan pengiriman komoditas ini keluar negeri. Di tahun 2018 tercatat sebanyak 10.896 batang dengan nilai Rp. 25,8 juta, kemudian meningkat signifikan di tahun 2019 menjadi 127.726 dengan nilai Rp. 224,4 juta.

Dwi Suslio, Kepala Karantina Pertanian Pontoanak menyebutkan selain pasar domestik ditanah air, sebanyak 14 negara juga menjadi pelanggan tanaman hias air ini. Antara lain Vietnam, Jepang, Hongkong, Rusia, Thailand, Korea Selatan, Italia, Jerman, India, Polandia, Cina, Kanada, Taiwan dan Amerika Serikat.

Selaku otoritas, pihaknya memfasilitasi pemenuhan persyaratan teknis dengan memberikan bimbingan teknis dan memberikan jaminan kesehatan serta keamanan, sehingga produk dapat diterima di negara tujuan. Berdasarkan UU21/2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, komoditas tanaman hias air masuk dalam ruang lingkup periksa Karantina Ikan, namun sampai dengan saat ini negara tujuan ekspor masih mempersyaratkan Photosanitary Certificate, PC yang diterbikan karantina pertanian, sehingga kita tetap fasilitasi, terang Dwi.

Pada masa pandewi Covid-19, memang terjadi penurunan jumlah ekspor akibat pemberlakuan ‘lockdown’ di semua negara tujuan. Baru 65.689 batang yang berhasil dikirimkan di triwulan I/2020 . Dan saat ini para eksportir menunggu saatnya pandemi mereda untuk dapat kembali ekspor, tambahnya lagi.3

M Yusuf, petani tanaman hias air asal Pontianak menuturkan bahwa Kalimantan sebagai daerah endemik tanaman ini sehingga komoditas tersedia berlimpah. Harga di pasar ekspor juga cukup menjanjikan dengan kisaran $100 per kilogram.(nor)

Categories: Ekonomi dan Bisnis

Leave A Reply

Your email address will not be published.