Indonesia Sangat Berkomitmen Terhadap Program Aksi ICPD25.

JAKARTA, PRIPOS.ID (19/11/2020) – Program Keluarga Berencana (KB) telah berkontribusi dalam banyak bidang kehidupan di banyak negara. Banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui program ini. Diantaranya peningkatan peningkatan kualitas hidup, lebih khusus lagi tingkat kesehatan, pendidikan, kesejahteraan hingga membuka lapangan kerja. Itulah benang merah yang mengemuka dalam Webinar Internasional ke-2 bertajuk “Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga” yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan dukungan Mitra Kependudukan dan Pembangunan (PPD), Johns Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) , dan Komisi Kependudukan dan Pembangunan (POPCOM Filipina), Selasa (17/11/2020).

Hasto mengatakan, Program Aksi Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) 1994 di Kairo yang diadopsi 179 negara tetap relevan untuk mengatasi banyak tantangan terkait isu kependudukan. Untuk memenuhi syarat (ambisi) Program Aksi ICPD dan mempercepat implementasi Agenda 2030 Pembangunan Berkelanjutan, United Nations Population Fund (UNFPA) bersama Pemerintah Kenya dan Denmark telah mengadakan Nairobi Summit on ICPD25: Accelerating the Promise (KTT Nairobi tentang ICPD25: Mempercepat Janji), pada 12-14 November 2019 lalu. Dari pertemuan itu, diperoleh data bahwa selama 25 tahun laporan Program Aksi ICPD banyak yang capai banyak negara. Di lain nya, angka kematian ibu (AKI) secara global menurun 40%, di kawasan Asia-Pasifik AKI juga turun 56% antara 2000 dan 2017. Namun, terlepas dari kemajuan ini, jutaan perempuan dan laki-laki di seluruh dunia belum dapat terlayani. Secara global, orang-orang, terutama populasi yang terpinggirkan, berkelanjutan dengan nasional yang merupakan penghalang bagi akses mereka ke layanan kesehatan seksual dan. Hingga saat ini lebih dari 200 juta perempuan dan remaja perempuan di dunia belum dapat mengakses pelayanan keluarga berencana. Selain itu, Indonesia dan negara lain juga menghadapi tantangan untuk melindungi perempuan dan anak perempuan dari kekerasan dan nasionalitas. Terutama dalam situasi kemanusiaan. Praktik-praktik berbahaya, seperti pernikahan anak dan sunat wanita masih berlangsung. Pada 2019 diperkirakan 10 juta anak perempuan secara global akan menikah di bawah usia 18 tahun. Di wilayah Asia-Pasifik, 140 juta perempuan masih belum memiliki akses ke alat kontrasepsi modern. Banyak di antaranya adalah remaja dengan keterbatasan akses ke layanan kesehatan seksual dan. Kemudian, sekitar 79.000 kematian ibu juga masih terjadi di wilayah Asia-Pasifik. Bahkan di Indonesia, angka kematian ibu tetap tinggi, termasuk yang tertinggi di negara-negara ASEAN.

Selain itu, tujuan akhir Program Aksi ICPD adalah peningkatan kualitas hidup generasi sekarang dan mendatang. Untuk itu, setiap negara harus secara khusus memenuhi kebutuhan semua elemen masyarakat, termasuk yang paling terpinggirkan. Di antaranya, melibatkan perempuan, anak perempuan, penyandang cacat dan masyarakat adat. Tanggung jawab untuk melakukannya ada di tangan semua bangsa. Jika kerjasama bisa dibangun bersama dengan lebih giat dan melakukan investasi penting yang dibutuhkan orang, menurut Hasto, pembangunan berkelanjutan untuk semua dengan pendekatan kearifan lokal dapat dicapai. “Webinar ini merupakan upaya meningkatkan dan memperbaiki komunikasi di antara negara-negara berkembang. Akses yang lebih luas untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman,” ujar Hasto.

Sementara DR. Adnene Ben Hak Aissa, Executive Director of PPD, menginformasikan bahwa jumlah total populasi dunia bertambah 80 juta jiwa per tahun. “Total fertility rate menjadi beban. Beban juga bagi sektor ekonomi, peluang lapangan kerja, dan fasilitas sumber daya seperti air bersih. Maka, investasi diperlukan di banyak bidang,” ungkapnya. Dia menilai Banglades luar biasa berinvestasi di bidang KB dan capaian target-target ICPD di 2020. “Prestasi ini ada di negara anggota PPD,” jelasnya. Melalui KB, menurutnya, banyak manfaat yang bisa diperoleh. Dan investasi ini berhasil meningkatkan kualitas penduduk di kawasan Afrika dan Asia. “KB berhasil mengurangi tingkat kematian dan meningkatkan bidang kesehatan, lapangan kerja, pendidikan,” ujarnya. Dia memuji bahwa BKKBN memiliki program yang paling maju di antara negara-negara anggota. “Dan kami turut mendukung capaian itu. Thailand pun memberikan perubahan yang signifikan. Bangladesh juga berhasil menurunkan AKI dengan melaksanakan dan meningkatkan capacity building,” tambahnya.

Webinar ini menampilkan pembicara DR. Ir. Lilis Heni, Spesialis Kesehatan Masyarakat dan Demografer Universitas Indonesia; Prof. Gu Baochang, Ahli Demografi dari Universitas Renmin, Cina; DR. Juan Antonio Perez, Direktur Eksekutif Komisi Kependudukan dan Pembangunan (POPCOM) Filipina. Juga Prof. Rizal Damanik PhD, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN. Bertindak sebagai pembahas Prof. Aris Ananta PhD, President of Asian Population Association (APA); dan Prof. Peter Mc. Donald, Profesor Emeritus di Universitas Nasional Australia dan Profesor Kehormatan di Universitas Melbourne. (maupun).

Categories: Artikel

Leave A Reply

Your email address will not be published.

corona covid 19 cialis https://academicjournals.org/js/ckfinder/ckfinder.html https://www.e-act.nl/admin/img/0/novagra-turkiye-satis-sitesi.pdf https://catholicculture.org/userfiles/files/novagra-satin-al.pdf https://egeduyuru.ege.edu.tr/dosyalar/novagra-nedir.pdf pendik escort
Pripos.id