Kawal Gratieks, Barantan Perkuat Laboratorium Di Lingkup Kerjanya

JAKARTA, PRIPOS.ID (01/03/2021) – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) terus melakukan peningkatan dan pengembangan kompetensi di berbagai lini guna mencapai target upaya peningkatan produk pertanian.

Dengan tugas strategis yang diemban untuk mengawal Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks, red), Barantan juga memperkuat laboratorium di lingkup kerja untuk meningkatkan keberterimaan komoditas pertanian di negara tujuan ekspor.

Laboratorium karantina merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem perkarantinaan Indonesia. “Kompetensi uji laboratorium cerminan wajah perkarantinaan Indonesia. Semakin maju kompetensi laboratorium maka karantina semakin disegani mancanegara, ”ungkap Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, dalam fasilitasnya pada Temu Teknis Jejaring Kerja Laboratorium Tahun 2021 secara virtual, beberapa waktu lalu.

Sebagai dukungan Gratieks, Jamil menambahkan bahwa kompetensi laboratorium harus dapat meningkatkan keberterimaan produk pertanian Indonesia di pasar Internasional. Sekaligus mencegah atau Notification of Non Compliance (NNC) dari negara tujuan ekspor. Hasil laboratorium penting untuk penentuan langkah tindakan karantina berikutnya.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati AM Adnan sebagai pembicara mengawali paparan pertama. Peran laboratorium dalam penyelenggaraan karantina tumbuhan adalah untuk memenuhi justifikasi ilmiah, mendiagnosis organisme pengganggu tumbuhan (OPT) sehingga dapat memberikan informasi penting terkait risikonya yang dapat masuk dan menyebar ke suatu negara, ”papar Adnan.

Adnan laboratorium menambahkan juga untuk memastikan akurasi hasil deteksi dan pemeriksaan OPT / OPTK (organisme pengganggu tumbuhan karantina) dalam tindakan pemeriksaan. Dan memberikan informasi yang akurat mengenai status OPT di suatu wilayah dari hasil kegiatan.

“Tentunya fokus kita untuk mendukung program Gratieks dengan menilai tindakan pemeriksaan kesehatan dan pengawasan keamanan PSAT (pangan asal tumbuhan), termasuk wilayah wilayah OPTK terutama di bidang produksi komoditas ekspor. Selain itu, BBUSKP (Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian-red) memiliki peran dalam pengungkit dan validasi metode uji yang dapat digunakan sebagai standar oleh unit pelaksana teknis seluruh Indonesia dalam rangka meningkatkan akseptabilitas komoditas ekspor. Dan yang terpenting untuk meminimalisasi NNC dari negara tujuan. Terakhir, BBUSKP perlu membangun jaringan diagnosis lingkup Barantan dengan pemanfaatan sistem dan teknologi, ”jelas Adnan.

* Kanal Komunikasi Pertukaran IPTEK *

Kepala Karantina Pertanian Uji Standar, Sriyanto menyampaikan tujuan penyelenggaraan temu teknis jejaring kerja laboratorium yaitu memfasilitasi komunikasi dan pertukaran informasi terkait ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terkini, terutama dalam pengujian laboratorium. Memberikan rekomendasi internal penguatan dan kebijakan kebijakan penguatan. Selain itu untuk melaksanakan pelaksanaan uji profisiensi tahun 2020, meningkatkan harmonisasi metode uji, serta meningkatkan performa laboratorium melalui implementasi dan evaluasi SNI ISO / IEC 17025: 2017 dan mengadopsi standar lainnya.

Sebagai upaya upaya percepatan penguatan kompetensi laboratorium, kegiatan ini menyediakan Fajarina Budiantari selaku Direktur Akreditasi Laboratorium dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Fajarina memaparkan kebijakan terbaru penerapan sistem manajemen laboratorium dan dukungan KAN selaku lembaga akreditasi dalam percepatan penambahan ruang lingkup akreditasi.

Selama penyelenggaraan temu teknis pada tanggal 22 sampai 25 Februari 2021, juga diisi berbagai materi penting terkait manajemen laboratorium dan teknis laboratorium yang disampaikan oleh narasumber kompeten.

Turut hadir secara berani perwakilan laboratorium dari 52 UPT lingkup Barantan, pakar dan pakar dari perusahaan swasta serta pakar dan akademisi dari perguruan tinggi ternama di Indonesia.(nor)

 

Categories: Artikel

Leave A Reply

Your email address will not be published.