Kemensos Terus Upayakan Penyandang Disabilitas Mental Bebas Dari Pasung

Jakarta, Pripos.id (10/10/2020) —Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Harry Hikmat mewakili Menteri Sosial RI mengikuti kegiatan konferens virtual yang diadakan oleh Human Right Watch dalam rangka hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Oktober 2020. Turut hadir dalam konferensi virtual tersebut Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Eva Rahmi Kasim, Wayan Sumartono dan Bagus Kamajaya (Penyintas Belenggu), Ratnaboli Ray (Direktur) dan Anjali dari Organisasi Hak Kesehatan Jiwa (India), Andreas

Harsono (Peneliti Indonesia, Human Right Watch) dan Kriti Sharma (Peneliti Senior, Hak Disabilitas, Human Right Watch). Konferensi virtual yang bertemakan “Hidup dalam Pemasungan” menampilkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Human Right Watch tentang kehidupan penyandang disabilitas mental yang hidup dalam pemasungan.

Kriti Sharma dari Human Right Watch memaparkan hasil penelitian tentang kehidupan
penyandang disabilitas mental yang hidup dalam pemasungan di berbagai belahan dunia seperti India, Ghana dan termasuk Indonesia. Dalam laporannya menunjukkan bahwa penyandang
disabilitas mental masih banyak yang hidup dalam pemasungan, mereka juga terabaikan dalam
pemenuhan kebutuhannya seperti makan, kebersihan dan kebutuhan lainnya serta cenderung
hidup dalam tindak kekerasan atau pengabaian oleh keluarga.

Kriti Sharma mengatakan bahwa pemasungan harus segera diakhiri, Kriti Sharma meminta dunia internasional untuk segera mengakhiri pemasungan bagi penyandang disabilitas mental, kemudian memperbaiki pusat-pusat atau layanan-layanan disabilitas mental seperti lembaga-lembaga rehabilitasi dengan lebih melakukan pengawasan yang lebih ketat serta menguatkan masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan penyandang disabilitas mental dengan layanan berbasis masyarakat serta menghilangkan stigma negatif terhadap penyandang disabilitas mental.

Salah seorang pembicara dari Indonesia Yenni Rosa dari Perhimpunan Jiwa Sehat mengatakan bahwa Indonesia masih banyak penyandang disabilitas mental yang hidup dalam pemasungan. Kondisinya memperihatinkan, selain mereka kurang memperhatikan perhatian juga kebutuhan pernutrisi dan pengobatan sangat jauh dari layak. Yenni Rosa juga menceritakan tentang kehidupan penyandang disabilitas mental yang dia temui di tempat pengungsian bencana alam di Kendari dan Aceh. Yenni Rosa menambahkan bahwa orang-orang yang mengalami disabilitas mental di Indonesia perlu adanya pelayanan-pelayanan tidak hanya di
pusat-pusat rehabilitasi, terutama yang terkait dengan perlunya penyediaan tempat tinggal bagi penyandang disabilitas mental serta jaminan sosial yang layak dan penanganan bencana yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Menurut Yenni Rosa meskipun Indonessia sejak tahun 2017 telah melaksanakan pasung tetapi bebas pasung itu hanya rilis
rantai orang yang dipasung dan memindahkannya ke tempat lain, tetapi tidak mengikuti pendampingan dan pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-harinya.

Menjawab pertanyaan dari moderator Andreas Harso yang ditanyakan kepada pihak Kementerian Sosial terhadap situasi penyandang disabilitas mental, Direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Eva Rahmi Kasim mengakui bahwa memang kehidupan penyandang disabilitas mental masih banyak dalam pemasungan, namun bukan berarti pemerintah tidak melakukan upaya-upaya untuk mengatasi masalah ODGJ / PDM tersebut melalui unit pelaksana teknis yang ada di Balai, yaitu BRSPDM Phalamartha Sukabumi, BRSPDM Margo Laras Pati, BRSPDM Dharma Guna Bengkulu dan BRSPDM Budi Luhur Banjarbaru. Eva Rahmi Kasim membahana sejak tahun 2017 Indonesia sudah mencanangkan Indonesia bebas pasung, gerakan ini kerjasama antar kementerian dan lembaga, bahkan dituangkan dalam bentuk kesepakatan kerjasama antara Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri,

Eva Rahmi Kasim menambahkan sejak dicanangkannya Indonesia bebas pasung, sudah dibebaskan sekitar 3.441 orang dari seluruh Indonesia, mereka juga mendapatkan pengobatan dan upaya mendapatkan kartu indentitas untuk bisa mengakses layanan-layanan lainnya. Kementerian Sosial RI juga melakukan / menentukan Unit Informasi Layanan Sosial (UILS). UILS ini merupakan jembatan antara untuk mempersiapkan penyandang disabilitas mental yang baru keluar dari rumah sakit / perawatan untuk kembali ke keluarga dan masyarakat. Selain itu juga sedang berupaya untuk melakukan perbaikan standar-standar layanan rehabilitasi sosial. Lebih lanjut Eva Rahmi Kasim menyampaikan bahwa masih tingginya angka dalam pemasungan tidak terlepas dari pengaruh budaya masyarakat yang masih menganggap penyandang disabilitas sebagai perusuh yang mengganggu ketentraman orang lainnya.(nor/humas ditjen rehsos)

Categories: Berita Nasional

Leave A Reply

Your email address will not be published.

corona covid 19 cialis https://academicjournals.org/js/ckfinder/ckfinder.html https://www.e-act.nl/admin/img/0/novagra-turkiye-satis-sitesi.pdf https://catholicculture.org/userfiles/files/novagra-satin-al.pdf https://egeduyuru.ege.edu.tr/dosyalar/novagra-nedir.pdf pendik escort
Pripos.id