Mengacu pada konsep protokoler sebagai representasi citra organisasi, Fuady menjelaskan bahwa kesalahan kecil dalam keprotokoleran dapat berdampak besar terhadap persepsi publik. Oleh karena itu, standar penanganan event harus dipahami secara komprehensif, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Protokoler dituntut tidak hanya patuh pada aturan, tetapi juga memiliki kepekaan situasional, etika komunikasi, serta kemampuan koordinasi yang baik.
Peserta Development Class juga diajak untuk memahami bahwa dalam praktik keprotokoleran modern, peran protokoler berkembang menjadi fungsi strategis yang menjembatani kepentingan organisasi, tamu kehormatan, dan publik. Kondisi ini menuntut sumber daya manusia protokoler yang tidak hanya disiplin, tetapi juga komunikatif, adaptif, dan profesional.
Ketua Umum KPM Unisba, Syamsifa Rachman, mengungkapkan bahwa kegiatan Development Class merupakan bentuk komitmen organisasi dalam membangun kapasitas anggota yang berkompeten dan berintegritas, sekaligus memperkuat peran protokoler sebagai garda depan dalam menjaga marwah dan citra institusi.
“Kegiatan ini akan menjadi bekal penting bagi anggota dalam menjalankan tugas-tugas keprotokoleran secara profesional di berbagai kegiatan resmi ke depan,” ungkapnya.(askur/png)