Laboratorium Karantina Menjadi Kunci Jaminan Ekspor Produk Pertanian Indonesia*

JAKARTA, PRIPOS.ID (23/09/2021) –Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor pertanian Indonesia selama Januari-Agustus 2021 mencapai 2,58 miliar dollar atau meningkat sebesar 7,52 persen jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 (YtoY).

Pertumbuhan yang cukup signifikan ini tentunya didukung oleh semakin banyaknya komoditas pertanian Indonesia yang diterima dengan baik di negara tujuan ekspor. Untuk itu, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian, BBUSKP menggelar webinar dengan tajuk Pengembangan Metode Diagnosis Organisme Penggangu Tumbuhan Karantina (OPTK) dalam Mendukung Program Gratieks, pada pekan lalu, Kamis (16/9).

“Badan Karantina Pertanian memiliki peran penting dalam memberikan jaminan kesehatan produk pertanian ekspor Indonesia yang aman dan bebas dari hama penyakit hewan dan hama penyakit tumbuhan karantina, sehingga tidak terjadi penolakan di negara tujuan ekspor,” ujar Bambang, Kepala Badan Karantina Pertanian melalui keterangan tertulisnya, Kamis (23/9).

Disinilah, Bambang menegaskan, peran laboratorium karantina menjadi kunci peran strategis dalam mewujudkan program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks) Kementerian Pertanian.

Menurut Bambang, kemampuan laboratorium sangat ditentukan oleh kemampuan pengembangan dan penerapan metode pengujian yang cepat, valid, dan akurat. Oleh karena itu, BBUSKP sebagai UPT laboratorium dituntut untuk terus mengembangkan metode standar secara cepat dan mendesiminasikannya ke seluruh laboratorium UPT lingkup Badan Karantina Pertanian.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Karantina Uji Standar, Sriyanto, menjelaskan saat ini BBUSKP sedang melakukan pengembangan metode diagnosis Organisme Penggangu Tumbuhan Karantina (OPTK) untuk mempercepat proses pemeriksaan tindakan karantina tumbuhan.

Saat ini ada 4 pengembangan metode diagnosis untuk memeriksa hama penyakit tumbuhan karantina yaitu pertama, pengembangan metode deteksi penyakit Fitoplasma yang terbawa oleh wortel. Kedua, metode deteksi hama kutu putih pada tanaman singkong dengan metode PCR serta memperkirakaan sebaran populasi pada waktu tertentu dengan menggunakan faktor iklim berdasarkan CLIMEX. Ketiga, metode deteksi penyakit busuk bulir bakteri pada padi serta keempat, metode deteksi penyakit busuk (Phytophthora palmivora) oleh Jamur pada buah kakao dengan metode PCR.

Pengembangan metode diagnosis ini merupakan hasil disertasi dari empat orang pejabat karantina yang telah menyelesaikan program doktoralnya, yakni Isti Wulandari (BBUSKP), Nopriawansyah ( BBKP Tanjung Priok), Kresnamurti (BUTTMKP) dan Masanto (BBKP Tanjung Priok).

Dalam webinar kali ini juga dipaparkan hasil studi kasus identifikasi dan kerugian ekonomi dari serangan hama cacing emas (Nematoda) yang terbawa oleh kentang di dataran tinggi Dieng yang merupakan hasil disertasi pejabat karantina di Pusat KKIP, Selamet.

“Ke 4 metode diagnosis ini masih tahap awal pengembangan, karena untuk menjadi metode standar masih perlu melewati beberapa tahapan selanjutnya seperti uji verifikasi metode, uji banding/uji profesiensi sebelum bisa ditetapkan sebagai metode standar uji yang akan diterapkan di seluruh laboratorium upt lingkup Badan Karantina Pertanian,” tutup Sriyanto.(nor)

 

Categories: Uncategorized

Leave A Reply

Your email address will not be published.