Langkah Progresif Kemensos Wujudkan Disabilitas Mandiri di Sektor Formal maupun Informal

Kuningan, Jawa Barat, Pripos.id (24/09/2020) — Kementerian Sosial RI melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial terus mengupayakan langkah progresif mewujudkan disabilitas mandiri di sektor formal maupun informal. Hal ini dilakukan melalui respon kasus terapi vokasional bagi Penyandang Disabilitas yang diselenggarakan oleh Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong milik Kemensos RI pada Rabu (23/09/2020).

Respon kasus terapi vokasional yang diselenggarakan di Kabupaten Kuningan. Jawa Barat ini merupakan pelatihan daur ulang, pembuatan kerajinan tangan dan tata boga. Peserta pelatihan merupakan 150 penyandang disabilitas fisik, rungu wicara dan mental di wilayah Kabupaten Kuningan. Ini merupakan sumberdaya potensial yang menunjang pembangunan.

Dirjen Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat berkesempatan memberi arahan secara virtual dan membuka kegiatan pelatihan secara resmi. Dirinya mendorong Kabupaten Kuningan menjadi percontohan bagi Kota/Kabupaten di Jawa Barat dengan menempatkan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor formal seperti pemerintahan, BUMN dan BUMD minimal 2 % dan perusahaan swasta minimal 1 %.

Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong menjadi salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang menjadi andalan Kemensos karena telah menghasilkan alumni yang memiliki kompetensi. Hal ini dikarenakan pelatihan yang diberikan benar-benar mengedepankan kegiatan yang kompetitif dan diperlukan oleh perusahaan dan pemerintah.

Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong memiliki 7 jenis vokasional, yaitu komputer, desain grafis, penjahitan, pekerjaan logam, promoting , elektronika dan ,contact center_. “Kedepan, sesuai tuntutan kebutuhan, pelatihan vokasional yang diberikan tidak hanya pada tingkat terampil, tapi akan mencapai tingkat ahli. Minimal penyandang disabilitas bisa mentransfer ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada penyandang disabilitas lainnya,” ungkap Harry.

Stigma yang diberikan masyarakat kepada penyandang disabilitas produktif yang menunjukkan keterbatasan tidak selalu benar. Karena dengan peningkatan kapabilitas yang dilakukan oleh Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong dapat melengkapi keahlian penyandang disabilitas sesuai kondisi fisik, mental, intelektual maupun sensorik.

Contohnya hasil karya penyadang disabilitas rungu wicara seperti kerajinan tangan, tata boga, administrasi perkantoran dengan penggunaan komputer menunjukkan pekerjaan tersebut tidak memiliki kendala berarti. Penyandang disabilitas mampu melakukan pekerjaan produktif.

Harry menegaskan bahwa masalah yang muncul adalah komunikasi antara pemberi kerja dengan penyandang disabilitas rungu wicara. Banyak pemberi kerja yang belum memahami penggunaan bahasa isyarat. “Jadi inilah yang perlu dipenuhi dan dipahami oleh pemberi kerja. sehingga keterbatasan tidak menjadi penghalang. Ini masalah cara berfikir, perspektif dan pemberian kesempatan,” jelas Harry.

Kegiatan terapi vokasional hari ini menurut Harry merupakan keberpihakan Kabupaten Kuningan terhadap penghidupan penyandang disabilitas di masa yang akan datang terutama di sektor informal. Keterampilan yang diajarkan akan menghasilkan kompetensi tertentu dan akhirnya akan menampilkan produk-produk yang menarik yang berasal dari daur ulang sampah.

Kesempatan ini merupakan peluang untuk menjadi seorang wirausaha. Bukan hanya mencari keuntungan semata namun memastikan potensi penyandang disabilitas dapat digunakan dengan tujuan memiliki kehidupan yang layak dan mandiri. “Inilah yang disebut sebagai _social entrepreneurship_,” tegas Harry.

Hal ini disambut baik oleh Bupati Kuningan, Acep Purnama yang juga mengapresiasi upaya Kemensos untuk memberikan hak-hak penyandang disabilitas di Kabupaten Kuningan. “Di Kuningan, kami juga sudah berupaya agar penyandang disabilitas mendapatkan hak yang sama dengan yang non disabilitas, terutama dalam lapangan pekerjaan”. Ujar Acep.

Kini ditambah dengan pelatihan dari Kemensos, khususnya pelatihan daur ulang yang menurutnya merupakan pelatihan dalam rangka penerapan teknologi tepat guna. “Dari bekas bungkus kopi bisa dibuat menjadi tas, hiasan dinding. Dari barang yang tidak biasa menjadi barang yang luar biasa. Ini kan hebat”. tambah Acep.

Harry mengarahkan agar Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong tidak hanya penyiapkan penyandang disabilitas yang siap bekerja di Pemerintah, BUMN maupun swasta, tetapi bisa mandiri berwirausaha.

Pada pelatihan ini, Balai Besar “Inten Suweno” Cibinong menggandeng Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Kumala untuk memberi pelatihan dalam pengelolaan limbah menjadi barang bernilai ekonomi. LKS Kumala merupakan lembaga yang unggul dalam melakukan pengelolaan sampah dan daur ulang.

“Kami bangga ada diantara kita yang peduli dengan teman-teman disabilitas, seperti LKS Kumala dan para instruktur yang akan memberi pelatihan di kegiatan ini,” tutur Harry.

“Betapa harapan kita besar terhadap penyandang disabilitasm Sedikit demi sedikit mereka mendapatkan hak-haknya. Mari kita wujudkan pemenuhan hak-hak disabilitas dan perlindungan terhadap disabilitas, agar mereka bisa hidup secara inklusif diantara kita semua,” pungkas Harry.

Acara Pembukaan Respon Kasus Terapi Vokasional ini mendapat dukungan penuh dengan kehadiran Bupati Kuningan dan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kuningan beserta jajarannya.(nor).

Categories: Berita Daerah

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Pripos.id