Menag Bicara Kesepakatan, Toleransi dan Keadilan

CIPUTAT, PRIPOS.ID (23/1/2020) – Menteri Agama didaulat sebagai pembicara kunci pada Diskusi Rountable tentang “Pasang Surut Relasi Agama dan Negara”. Diskusi ini digelar Ikatan Alumni UIN (IKALUIN) Syarif Hidayatullah di Ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah.

Hadir sebagai narasumber: Prof. Amelia Fauzia, P.Hd (Guru Besar Sejarah), Burhanuddin Muhtadi, P.Hd (Direktur Eksekutif Indikator Politik), Prof. Dr. Euis Amelia, M.Ag (Ketua Prodi S3 FEB), Ahmad Najib Burhani, P.Hd (Peneliti Bidang Humaniora, LIPI), Mustholih Siradj, MH (Advokat dan Kurator), Adi Prayitno (Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia), dan Andi Syafrani, MCCL (Pengacara).

Di hadapan para alumni UIN, Menag berbicara tentang pentingnya persetujuan, membahas, dan menegakkan keadilan dalam kaitannya dengan agama dan negara. Hal ketiga ini, kata Menag, terinspirasi dari upaya yang dilakukan oleh Rasulullah saat membangun Madinah. Menurut Menag, Rasulullah bersama masyarakat Madinah yang membangun kesepakatan membentuk Piagam Madinah, lalu mewujudkannya dalam kehidupan yang toleran dan berkeadilan.

“Ada persetujuan, persetujuan, dan penegakkan keadilan. Ini nilai yang disetujui Rasulullah saat membangun Madinah,” ujar Menag di Ciputat, Kamis (24/01).

Menurut Menag, dalam konteks Indonesia, Pancasila juga hasil kesepakatan para pendiri bangsa. Karenanya, nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam kehidupan yang lengkap dan berkeadilan.

Dalam kesempatan ini, Menag juga berbagi cerita tentang perubahan yang terjadi di negara arab, khususnya Arab dan Uni Emirat Arab. Di Arab Saudi, Menag melihat ada hubungan antara identitas agama dan kebangsaan. Hal itu tertuang dalam visi Arab Saudi 2030, di mana menguatkan ditempatkan di dalam satu kotak yang sama, tidak berhasil. Saudi punya pengalaman yang kurang baik saat mengenali identitas kebangsaan dan agama.

“Saudi saat ini tidak akan diizinkan lagi antara identitas keislaman dan kebangsaan,” katanya.

“Indonesia dari dulu sudah, membangun wawasan keislaman dan kebangsaan menjadi paket yang tidak terpisahkan,” tambahnya.

Menag juga bercerita tentang perkembangan moderasi beragama di Uni Emirat Arab. Toleransi menjadi nilai yang dikedepankan hingga banyak wisatawan dan investor yang datang ke sana.

“Meminta tidak akan datang jika masyarakat tidak toleran. Toleransi terus dikampanyekan, tapi hal itu tidak menghilangkan identitas keislaman di sana,” terangnya.

Menagihkan apa yang diceritakan terkair perubahan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bukan berarti akan diterapkan di Indonesia. Namun demikian, informasi yang diharapkan bisa menjadi bahan kajian dalam upaya terus merawat kerukunan dan relasi agama-negara di Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Panitia Diskusi Rountable Sukron Kamil menjelaskan tentang tema relasi agama-negara yang disetujui guna membahas penguatan nilai keagaman di masyarakat namun integrasi dengan negara dirasa masih kurang nampak. “Hal ini yang akan didiskusikan,” katanya.

Sementara Ketua IKALUNI Ahmad Zacky Siradj menggarisbawahi catatan sejarah bahwa agama selalu mencatat peradaban umat dan tata kelola kenegaraan. Menurutnya, kunci peradaban bisa bertahan karena sikap moral dan karakter agama masuk dalam wilayah peradaban. Dia berharap di Indonesia bisa mewujudkan agama yang berperadaban dan negara yang berkeadaban.

Mewakili Raktor, Wakil Rektor Bidang Kerjasama Andi Faisal menyampaikan bahwa alumni UIN Syarif Hidayatullah telah mencapai lebih dari 80ribu. Jumlah ini tersebar di seluruh nusantara, dan terhitung negara Asia Tenggara, Eropa, Amerika, dan Afrika.

“UIN Syarif Hidayatullah setiap tahun menggelar empat kali wisuda, dan satu kali momen berlangsung dua hari. Karena auditoriumnya hanya memuat seribu lima ratus orang,” ucapnya.

“Semoga ke depan auditorium bisa menampung lebih dari empat ribu orang jadi wisudanya cukup dua kali lipat,” harapnya.

Tampak hadir, Ketua Senat UIN Prof Abudin Nata, Sekretaris Senat Prof Armai Arief, Prof Zainun Kamal, Prof Amin Suma, para dekan dan dosen, serta Sekretaris Menteri (Sesmen) Khairul Huda Basyir yang juga sedang membuka program doktoralnya di UIN Syarif Hidayatullah.(khoiron/ask)

Categories: Agama

Pripos.id