Mengembangkan Sektor Pariwisata di Era Digital

JAKARTA, PRIPOS.ID (21/05/2022) – Pariwisata menjadi salah sektor yang terimbas begitu parah akibat pandemi Covid-19. Sejak dua tahun virus itu melanda, hampir seluruh bidang pariwisata di Tanah Air berada di ujung tanduk, bak mati suri. Padahal, sektor ini menjadi salah satu ujung tombak Indonesia dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.

“Ada 34 juta rakyat Indonesia yang bergantung pada sektor pariwisata. Sementara itu ada 13.9 juta pekerja yang hidup di sektor wisata. Kemudian ada sekitar 1, 7 juta orang yang kehilangan pekerjaan dari dampak Covid-19. Masalah inilah yang menjadi cacatan agar sektor pariwisata kembali bangkit.Kemajuan sektor wisata harus terbuka kepada dunia luar. Dimana Indonesia harus membangun sektor pariwisata yang lebih inovatif dan kreatif,” papar Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Bambang Kristiono, S.E dalam webinar Ngobrol Bareng Legislator bertajuk “Mengembangkan Sektor Pariwisata di Era Digital” pada Jumat (20/5/2022).

Namun kini, seiring membaiknya kondisi Covid-19, sektor pariwisata pun kembali pulih secara perlahan. Harapannya pun harus semakin berjaya kembali, seperti sebelum Covid-19 melanda seluruh belahan dunia.

“Sekarang setelah pandemi covid ini pemerintah membangun wisata Mandalika yang menjadi destinasi andalan di masa depan. Dimana Lombok akan dikembangkan dengan visi Lombok sebagai destinasi yang berkelanjutan, tangguh dan inklusif,” terangnya.

Pulihnya sektor pariwisata di Tanah Air pun disambut baik oleh seluruh pihak. Diprediksi, sektor ini pun akan terus berkembang.

“Pada tahun 2045 diperedeksi pada peningkatan 12 juta kunjungan destinasi wisata di Lombok. Kunjungan dari antar kota maupun antar negara ke destinasi wisata ini diharapkan dapat meningkatkan manfaat ekonomi dalam bentuk sektor pariwisata sebesar Rp98,6 Triliun rupiah,” ungkap Bambang.

Selain lombok, Indonesian memiliki hampir 3000 destinasi wisata. Tapi sayangnya belum semuanya terdigitalisasi. Padahal sistem pengelolaan manual memiliki pembayaran yang terbatas dan sangat rentan terhadap kebocoran data. Sehingga pendapatan dari sektor wisata tentunya akan berkurang.

“Digital tourism merupakan salah satu cara yang efektif dalam mempromosikan dalam berbagai destinasi pariwisata Indonesia melalui berbagai platform. Artinya, digital torizm tidak hanya mengenalkan namun juga menyebarkan keindahan pariwisata kita ke berbagai daerah maupun luar negara,” ucap Bambang.
Digital tourism, kata Bambang, disebut juga sebagai tren yang dapat menjadi batu lompatan besar bagi sektor wisata di Indonesia.

“Karena digital tourism secara tidak langsung membuat masyarakat melek dan ikut beradaptasi dalam perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Vokasi Universitas Indonesia, Dr. Dian Pranita, MM memaparkan bahwa platform digital, dapat memudahkan banyak pihak dalam menentukan tujuan lokasi pariwisata.

“Seperti yang kita tahu jika kita pergi kemana-mana kita sudah bisa mengetahui informasi dan bisa langsung membooking tempat yang akan kita tuju hanya dengan handphone kita. Jadi, mungkin sudah disampaikan bahwa sektor wisata mempunyai gangguan, yang artinya, gangguan ini harus kita antisipasi dan tidak kita jadikan sebagai kelemahan di sektor pariwisata,” katanya.
Menurutnya, penerapan digital tourism saat ini seolah menjadi sebuah keharusan.

“Teknologi digital dampaknya terhadap pariwisata, mau tidak mau sektor pariwisata harus menjadi smart destination, smart career, smart mobility. Sekarang dari UI sendiri sudah membangun smart mobility, smart tourism. Supaya desa-desa kita ini bisa dikenal dan bisa memanfaatkan dunia digital untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Dalam hal ini, Dian menuturkan bahwa sangat diperlukan adanya kolaborasi dari seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat, hingga media.

“Di mana kita harus mengembangkan bisnis mobile yang baru. Contohnya kita punya ruang di rumah yang bisa menghasilkan uang atau bisnis secara digital,” jelas Dian.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Aptika Kemkominfo, Samuel A Pangerapan, B.Sc mengatakan bahwa pihaknya akan menjadi garda terdepan dalam penanaman literasi digital ini kepada masyarakat.
“Karena penggunaan internet perlu dibantu dnegan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan dengan produktif, bijak dan tepat guna,” jelasnya.

Sebab jika dilihat dari kondisi yang ada, tingkat literasi digital di Tanah Air kini masih belum mencapai tahap yang lebih baik.

“Saat ini indeks literasi digital Indonesia masih berada pada angka 3,49 dari skala 5, yang artinya, masih dalam kategori sedang belum mencapai tahap yang lebih baik. Angka ini perlu terus kita tingkatkan sehingga menjadi tugas kita bersama untuk membekali masyarakat kita dengan kemampuan litrerasi digital,” pungkasnya.(nor)

Categories: Ekonomi dan Bisnis

Leave A Reply

Your email address will not be published.