Menjadi Orang Beriman, Bukan Hanya Beragama

Pemirsa Mimbar Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia yang terkasih di dalam Tuhan. Renungan kita pada hari ini terambil dari Kitab Kejadian 22 :1 – 2.

Pemirsa yang terkasih dalam Tuhan. Kitab Kejadian 22:1-2 akan saya bacakan dan akan menjadi renungan kita dalam waktu yang singkat ini: Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan. Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Demikian Firman Tuhan…

Tuhan berbicara kepada Abraham: “Abraham ambillah anakmu Ishak, persembahkanlah sebagai korban bakaran.” Suatu permintaan yang luar biasa. Abraham tidak segera mengatakan iya. Saya membayangkan malam itu, setelah menerima Firman ini, Abraham tidak bisa tidur. Seribu satu pertanyaan menjiwai Abraham, apa benar Tuhan meminta anak ini? Bukankah baru saja Tuhan mengatakan: Abraham dari keturunan Ishak lah akan mendapat berkat.

Yang disebut keturunan Abraham itu lahir dari Ishak, sekarang Ishak akan dikorbankan sebagai korban bakaran. Abraham bertanya, apakah mungkin ada pengganti Ishak ini? Sara sudah tua.

Dia bergumul, bergumul tidak tenang, dan ia mencoba menoleh ke belakang, melihat bagaimana Tuhan menyertai Abraham. Sejak ia dipanggil dari negerinya, meninggalkan sanak saudara, meninggalkan kampung halaman, pergi ke daerah yang tidak diketahui dan ia tiba di tempat di mana dituju, timbul kelaparan, tapi Tuhan tidak membiarkan Abraham. Ia lari ke Mesir dan di Mesir ada kekayaan. Tetapi bahaya di sana, Firaun mengincar istrinya yang cantik, Sara. Boleh jadi Abraham akan dibunuh, tetapi Abraham berdusta bahwa itu bukan istrinya, tetapi saudaranya.

Di sini menunjukkan bahwa Abraham juga manusia yang penuh dengan kelemahan, penuh dengan keterbatasan. Tetapi dalam kelemahannya, dalam keterbatasannya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Iman Abraham bertumbuh dalam perjalanan-perjalanan ini.

Juga kita mendengarkan bahwa ketika Ishak dan Ismail sedang bermain-main, mulailah iri hati Sara, jangan-jangan Ismail akan menjadi pewaris dari Abraham dan Sara mengusir Hagar bersama dengan Ismail, menyebalkan hati Abraham. Bagaimana mungkin Ismail, darah dagingnya akan diusir dari rumah, tetapi Tuhan mengatakan turuti apa yang dikatakan Sara, karena dari keturunan Ishak lah yang akan disebut keturunanmu, dan sekarang Tuhan mengatakan Ishak persembahkan sebagai koorban bakaran.

Luar biasa, apa Tuhan ‘nggak’ salah ini? Bagaimana mungkin keturunan akan lahir dari Ishak, tapi Ishak akan dikorbankan? Tapi pengalaman-pengalaman itu menunjukkan bahwa banyak hal-hal yang tidak bisa dimengerti secara akal tapi diterima secara iman, pada akhirnya memperlihatkan rencana Tuhan yang indah. Itu membuat Abraham mengambil keputusan dengan berat hati sekalipun. Tapi dalam ketulusan, ia bersedia mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran.

Ya, jadilah besok paginya itu Abraham mulai berjalan, suatu perjalanan yang menegangkan, suatu perjalanan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Ketika menjelang gunung yang Tuhan tunjukkan, maka berdualah Abraham dengan Ishak menuju ke gunung itu. Ishak membawa kayu bakar, Abraham membawa pisau dan api.

Benarkah Ishak sang anak kesayangan akan mati di tangan sang ayah? Kalau saja ia berpikir biasa-biasa, mungkin ia akan pulang. Tapi iman penyerahan diri kepada Tuhan mengatakan dalam perjalanan yang menyedihkan ini Tuhan tidak merancang hal-hal yang buruk dan karena itu ia bertekad berjalan bersama.

Ayah tidak pernah merencanakan kejahatan kepada anak ini, begitulah pikiran Abraham. Tuhan nggak pernah merencanakan kejahatan dalam diri Abraham, walaupun tugas ini amat-amat berbahaya. Apakah kita percaya bahwa dalam iman, Tuhan tidak pernah merancang kejahatan, selalu yang baik dirancang dalam hidup kita? Awalnya kita tidak akan mengerti, tapi akhirnya kita akan mengerti. Banyak orang percaya, tetapi tidak semua orang beriman.

Percaya belum tentu beriman, beriman itu pasti percaya. Iman ialah mempercayakan diri, bukan sekedar percaya. Karena itu banyak orang-orang percaya, banyak orang beragama tapi hanya sedikit orang beriman karena orang beriman adalah orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan dan mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman, berani berjalan bersama dengan Tuhan walaupun jalan itu amat berbahaya.

Saya tidak tahu apakah anda dan saya tergolong orang yang sekedar percaya, orang beragama, atau kita terbilang sebagai orang-orang beriman? Yang bisa menjawab hanya anda, saya dan Tuhan. Semoga semua kita ini menjadi orang-orang beriman, bukan sekedar orang beragama. Bukan sekedar orang yang percaya, tetapi mempercayakan hidup di dalam pemeliharaan Tuhan. Amin

Pdt. Musa Salusu, M.Th. (Ketua Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja)

Categories: Agama

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Pripos.id