Raja yang Sengsara

Kita patut bersyukur bahwa pada hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan Minggu Palma, awal pekan suci mengenangkan Yesus memasuki kota Yerusalem untuk menggenapi misteri Paskah-Nya.

Ketika mengenang kembali Yesus masuk kota Yerusalem, kita teringat bahwa orang-orang bagai lautan menyambut Yesus dengan membentangkan pakaian mereka, melambai-lambaikan daun-daun palma disertai sorak sorai, menyambut Dia dalam suatu pawai kebesaran. Kita dapat membandingkannya dengan pawai kebesaran pimpinan negara atau orang yang istimewa dalam suatu negara. Bedanya Yesus menampilkan Diri-Nya sebagai Raja yang sederhana, miskin, tidak punya kemewahan sebagaimana lazimnya raja-raja dunia.

Padahal orang-orang yang menanti-nantikan Dia, berharap Ia datang sebagai Raja yang berkuasa secara duniawi, membebaskan mereka dari belenggu penjajahan kaum penguasa. Namun demikian, Yesus tetap tampil sebagai Raja yang papa, karena kerajaan yang Yesus tampilkan bukanlah kerajaan duniawi melainkan Kerajaan Allah, yang dalam pemenuhannya tidak membutuhkan kemewahan, kekuatan, keagungan lengkap dengan atribut-atribut kekuasaan duniawi, melainkan dengan kekuasaan Ilahi penuh kasih dan pengorbanan.

Walaupun demikian, umat/masyarakat Yerusalem dan sekitarnya tetap mengeluk-elukan Yesus sebagai Raja dengan bersorak “Hosana Putera Daud, terberkatilah yang datang atas nama Tuhan!”

Mengapa demikian? Apa yang menjadi keistimewaan Yesus sehingga mereka mengelu-elukan Dia, meski de facto Dia tampil dalam kemiskinan-Nya hanya menunggangi seekor keledai muda tidak seperti raja-raja pada waktu itu di sana?

Jawabannya adalah bahwa Yesus telah berkeliling mewartakan Kerajaan Allah, Kerajaan damai dan kasih, Kerajaan pengampunan sambil mengadakan banyak mukjizat. Ia masuk membawa damai, sukacita, dan hidup abadi bagi siapapun yang menerima-Nya dalam kerendahan hati.

Kedatangan Yesus yang dielu-elukan oleh masyarakat sebagai Raja dengan sorak sorai, dalam sekejap berubah menjadi sorak-sorai menyalibkan Dia. Orang-orang yang tadinya berteriak “Hosanna Putera Daud”, seketika itu juga berteriak “Salibkan Dia!”. Inilah misteri Paskah Yesus yang sama sekali tidak sesuai dengan realitas pikiran manusiawi kita. Yesus datang dan menggenapi semuanya dengan kasih dan pengorbanan, karena itulah kehendak Bapa-Nya.

Yesus menempatkan kehendak Bapa-Nya di atas segalanya, sehingga Ia tidak mencari kemegahan, Ia tidak mencari nama dan pujian, Ia juga tidak mencari popularitas diri. Bagi Yesus melaksanakan kehendak Bapa-Nya dengan taat dan setia itulah yang terpenting, walau harus menjadi Raja yang sengsara, menjalani penderitaan dengan salib hingga wafat.

Dari kisah ini, kita dapat memetik beberapa nilai untuk meningkatkan kualitas iman. Pertama, Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja yang dinanti-nantikan.

Pertanyaan mendasar bagi kita adalah apakah kita sudah seperti masyarakat Yerusalem, siap dan menanti-nantikan Yesus untuk meraja dalam hati kita?

Kedua, orang-orang yang mengelu-elukan Dia sebagai Raja akhirnya berbelok meneriaki salibkan Dia, entah atas pengaruh penguasa atau inisiatif sendiri. Sadar atau tidak kita pun mengelu-elukan Yesus sebagai Raja, namun pada saat yang sama atau pun berbeda kita meneriaki salibkan Dia. Maka, pertobatan menjadi sangat penting untuk dapat berpeluang menyambut Yesus sebagai Raja dalam hati kita.

Ketiga, Yesus begitu taat dan setia kepada Bapa-Nya bahkan sampai wafat di Salib. Sekalipun tidak sama seperti Yesus, apakah kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk setia dan taat kepada Allah: Bapa, Putera, dan Roh Kudus?

*Drs. Yohanes Bosco Otto, M.Pd (Kasubdit Pendidikan Tinggi)

Categories: Agama

Leave A Reply

Your email address will not be published.