Menurut rektor, mahasiswa Generasi Z tumbuh di tengah arus digitalisasi dan keterbukaan informasi yang cepat. Di satu sisi mereka kritis dan adaptif terhadap teknologi, namun di sisi lain rentan terhadap tekanan psikologis dan tantangan kesehatan mental.
“Pendekatan dosen wali tidak lagi dapat bersifat konvensional. Diperlukan pemahaman yang mendalam terhadap pola pikir mahasiswa, kepekaan terhadap respons emosional, serta strategi komunikasi yang empati, dialogis, dan membangun,” tegasnya.
Melalui kegiatan refreshment ini, rektor berharap para dosen wali dapat merefleksikan kembali peran strategisnya serta memperkuat kapasitas dalam mendampingi mahasiswa secara lebih humanis, relevan dengan perkembangan zaman, dan sejalan dengan nilai-nilai Islami Unisba.
“Dosen wali yang mampu mendengarkan dengan empati akan menjadi tempat aman bagi mahasiswa untuk bertumbuh, tidak hanya secara akademik tetapi juga secara personal dan spiritual,” ujarnya.


