Sinergisitas Barantan Memastikan Mangga Gedong Gincu Bebas Bactrocera Occipitalis

JAKARTA, PRIPOS.ID – Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian terus melakukan upaya negosiasi untuk membuka akses pasar ekspor mangga ke Jepang, terutama varietas gedong gincu asal Sumedang, Jawa Barat. Upaya yang dilakukan salah satunya secara sinergi dengan pemangku kepentingan, seperti petani, akademisi, pelaku usaha, dan lainnya.

Berdasarkan penelitian Susanto dkk (2022a) pada mangga jenis gedong, cengkir, dan arumanis tidak ditemukan lalat buah jenis _Bactrocera occipitalis_ di wilayah Jawa Barat, khususnya Sumedang yang merupakan salah satu sentra mangga. Saat ini mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 25 Tahun 2022, _B. occipitalis_ di Indonesia baru ditemukan di Kalimantan.

Kementerian Pertanian juga melakukan kerja sama penelitian dengan Institut Pembangunan Jabar Universitas Padjadjaran (Injabar Unpad), sesuai permintaan dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan ( _Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries_ (MAFF)) Jepang, untuk mendeteksi keberadaan lalat buah tersebut di Tarakan, Kalimantan Utara. Hasilnya _B. occipitalis_ tidak ditemukan pada mangga, melainkan pada jambu (Psidium guajava). Jumlahnya yang ditemukan sebanyak 14 ekor _Bactrocera occipitalis_ dari 2.898 ekor lalat buah yang tertangkap perangkap.

“Kajian ilmiah yang terus berkelanjutan sebagai bentuk sinergi Barantan dengan akademisi. Hal ini sebagai dasar justifikasi ilmiah bahwa Jawa Barat tidak ada lalat buah jenis _Bactrocera occipitalis_. Jadi sebetulnya Jepang tidak perlu khawatir dan semoga segera teralisasi ekspor gedong gincu,” ujar Adnan Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (9/9).

Barantan, Adnan mengungkapkan, terus bernegosiasi untuk menyakinkan Jepang bahwa produk buah tropis Indonesia aman. Jaminan keamanan tersebut dipastikan melalui serangkaian tindakan karantina untuk memastikan sesuai persyaratan negara tujuan, berdasarkan standar sanitari dan fitosanitari (SPS).

*Pengelolaan Secara Terintegrasi*

Selain itu, mulai dari hulu telah dilakukan pengelolaan kebun hingga pascapanen secara integrasi dan ramah lingkungan (Good Agricultural Practices) sehingga tidak terinfestasi lalat buah _B. occipitalis_ pada mangga. Hal ini diungkapkan pada diskusi kelompok terpumpun atau Forum Group Discussion (FGD). Tema kegiatan “Pengelolaan Lalat Buah pada Komoditas Hortikultura Mendukung Ekspor” di Bogor yang berlangsung tiga hari, 7-9 September 2022.

Dalam diskusi tersebut, menurut peneliti Organisasi Riset Pertanian Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Affandi menyebutkan ada tiga cara pengelolaan lalat buah yang sudah diterapkan di beberapa kebun mangga dan bisa untuk produk hortikultura lainnya.

“Pertama, sanitasi buah jatuh dan inang alternatif untuk menekan populasi awal. Dilakukan minimal sebulan sekali. Kedua, pengendalian lalat buah jantan dengan menggunakan atraktan, methyl eugenol, yang dikombinasikan dengan insektisida. Ketiga, penyemprotan protein bait dicampur insektisida, untuk mengendalikan lalat buah betina,” ujarnya.

Pengelolaan tersebut, Affandi menjelaskan, sudah terbukti efektif menekan populasi menjadi hanya satu persen.(nor)

 

Categories: Ekonomi dan Bisnis

Leave A Reply

Your email address will not be published.