Smart Green House, Bertani Tak Kenal Perubahan Iklim

JAKARTA, PRIPOS.ID (05/01/2021) – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) telah meresmikan enam Smart Green House dalam program Screen House modern di Kabupaten Soppeng. Screen House ini merupakan program terobosan Kementerian Pertanian (Kementan) yang diaplikasikan oleh Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP).

“Tujuannya guna mencetak SDM yang memiliki kemampuan teknis produksi dan manajemen, mandiri, modern dan profesional, serta dapat bersaing di era industri 4.0, sebagai sarana smart farming dan modern farming, yang dapat berkelanjutan dengan kualitas sesuai dengan permintaan pasar baik domestik maupun ekspor dan memanfaatkan penggunaan lahan yang terbatas, kata Mentan SYL.

Mantan Gubernur dua periode ini menegaskan, Screen House merupakan modern farm yang menjadi jawaban sektor pertanian agar tidak terpengaruh dengan perubahan iklim atau pada alam untuk menghasilkan pangan. Di sisi lain, harapannya tidak ada lagi lahan kritis. Oleh karena itu, pengembangan pertanian melalui sistem digital dengan program Screen House ini harus dikembangkan dengan menghasilkan berbagai komoditas.

“Kita harus terus mengantisipasi perubahan iklim, dengan melalukan pertanian modern, upaya apapun untuk menyediakan pangan harus dilakukan. Tidak boleh ada lahan yang menganggur di atas 20 hari dan indeks pertanaman bisa 3 sampai 4 kali tanam,” terangnya.

Direktur Jenderal PSP, Ali Jamil menjelaskan, bantuan Smart Green House melalui program Screen House merupakan program yang akan diarahkan sebagai program jangka panjang di Kementan.

Untuk itu, Ali menilai pada tahap awal di tahun 2021, kegiatan Screen House bertujuan untuk melatih SDM, baik kalangan pelajar, petani dan masyarakat umum agar dapat memahami Pertanian Cerdas Digitalisasi Pertanian atau e-Agriculture, sehingga mampu mendistribusikan ilmunya kepada masyarakat khususnya petani.

“Tentunya dalam pelatihan SDM, Ditjen PSP menggandeng pihak yang berkompeten dalam bidang Smart Farming dalam transfer ilmu,” ujarnya.

Dikatakannya, kegiatan ini dilakukan secara bertahap dan berjenjang serta nantinya akan berkelanjutan. Screen House, Ali menjelaskan, akan terus dilaksanakan pada tahun 2022 di beberapa lokasi lainnya dengan menerapkan pembangunan pertanian pertanian dengan cara digitalisasi melalui kombinasi penggunaan platform melalui konektivitas perangkat teknologi seperti komputer dan smartphone dalam mengumpulkan data yang mendukung produksi.

“Maka seperti pemberian nutrisi , pengairan, pengaturan suhu akan dilakukan secara otomatis tanpa menggunakan tenaga manusia,” papar Ali. Dijelaskan Ali, inovasi pertanian melalui sistem otomatisasi pada pengendalian lingkungan mikro dan suplai udara atau nutrisi tanaman berbasis Internet of Things. “Sehingga mampu menciptakan petani yang maju, mandiri dan modern,” jelas Ali.(nor)

Categories: Ekonomi dan Bisnis

Leave A Reply

Your email address will not be published.