Namun, ia juga menyoroti tantangan regulasi terbaru dari Kementerian ESDM, di mana sertifikasi blasting hanya dapat diambil setelah lulus sarjana. “Dulu mahasiswa bisa mendapat pendidikan sekaligus sertifikasi saat kuliah tapi sekarang harus lulus dulu, bahkan bekerja dulu baru bisa sertifikasi. Hal ini cukup menyulitkan sehingga kami berusaha mencari alternatif solusi,” tambahnya.
Meski begitu, Yunus optimistis lulusan Teknik Pertambangan Unisba tetap memiliki daya saing tinggi berkat dukungan berbagai perusahaan kontraktor besar di bidang blasting, seperti PT Dahana, PT DNX Indonesia, dan lainnya. Apalagi, banyak posisi strategis di perusahaan-perusahaan tersebut juga didominasi alumni Unisba sehingga peluang penempatan kerja bagi lulusan relatif terbuka luas.
Dalam pesan dan harapannya, Yunus menekankan pentingnya membangun jaringan pribadi. “Selama kuliah, mahasiswa memang aktif di himpunan maupun BEM, namun itu saja tidak cukup. Jaringan pribadi jauh lebih berpengaruh terhadap perkembangan karier. Jangan hanya mengandalkan orang tua karena mereka tidak selalu mengikuti perkembangan teknologi. Yang penting adalah membangun networking seluas-luasnya dan bersikap fleksibel dengan perkembangan zaman,” pesannya.