“Kami membayangkan bahwa jika para perusahaan daur ulang sampah dapat bertransaksi dengan rumah tangga, maka budaya pemilahan sampah akan meningkat,” tutur Yuhka Sundaya, Ketua Tim Peduli Lingkungan IA Unisba. Keyakinannya muncul dari studi awal di Masyarakat Tamansari Kota Bandung dan RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. Rata-rata, kurang dari separuh rumah tangga yang biasa memilah sampah organik dan anorganik di rumahnya. Tapi, pasar sampah eksis di masyarakat, perilaku memilahnya diperkirakan meningkat 20 hingga 25 persen. Pekerjaan rumah dalam kerjasama tersebut adalah melakukan uji coba kontrak pasar sampah antara warga dengan perusahaan daur ulang sampah. “Kami menyebutnya dengan program aktivasi pasar sampah”, tutur Yuhka Sundaya.
Ketua KSM Doddi Iryana Memed, berpikir lebih panjang lagi. Dari kecintaannya terhadap lingkungan, ia berpikir bahwa perlu ada edukasi kepada generasi anak-anak, sehingga dalam kerjasama juga dibubuhkan program untuk mendirikan Sekolah Lingkungan. Doddi adalah pelopor dan penggerak pengelolaan sampah organik menjadi komposter dan berkembang menjadi integrated farming pada lahan fasilitas umum di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. Kepemimpinannya berhasil menggerakan ibu-Ibu RW ke dalam kerja-kerja KSM, hingga memperoleh banyak penghargaan dan kunjungan dari masyarakat luar.