Follow US: 

Pripos.id
  • Home
  • Berita Nasional
  • Artikel
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Berita Daerah
  • Hiburan dan Gaya Hidup
  • Iptekni
  • More
    • Sosial Politik
    • Manajemen
Reading: Sudahkah Perpustakaan Menjadi Jantung Literasi Sekolah?
Share
Font ResizerAa
Pripos.idPripos.id
Search
Follow US
Made by ThemeRuby using the Foxiz theme. Powered by WordPress
Opini

Sudahkah Perpustakaan Menjadi Jantung Literasi Sekolah?

By Kontributor Prpos 7 Min Read Published October 30, 2026
Share
Muhammad Subhan Penggerak Literasi Sumatra Barat
Oleh Muhammad Subhan
Rikotmi Hasind: Masih seperti yang dulu sepertinya, perpustakaan baru sekedar gudang tumpukan buku, kebanyakan perpustakaan masih menjadi penyimpanan buku ajar yang dipasok. Sehingga minat baca belum lagi tumbuh dan berkembang…
SEKOLAH-SEKOLAH yang rancak, yang hidup dan bernyawa, selalu memiliki denyut yang kuat di ruang perpustakaannya. Di sana, ada kehidupan yang bergerak, pikiran yang tumbuh, dan cita-cita yang berakar. Perpustakannya bukan sekadar gedung dengan tumpukan buku, bukan pula ruang hening dengan meja kayu usang yang lapuk dimakan waktu.
Perpustakaan sejatinya adalah jantung sekolah, yang memompa denyut nadi dan darah pengetahuan ke seluruh ruang kelas, menyalakan semangat belajar, dan menumbuhkan budaya baca di antara warga sekolah.
Namun sayangnya, sebagian perpustakaan sekolah belum mendapat tempat yang semestinya, dan sering dianggap pelengkap administratif semata. Perpustakaan itu harus ada—atau terpaksa diadakan—karena aturan, bukan karena sebenar-benar kebutuhan.
Padahal, di sinilah sesungguhnya sekolah menemukan napas kehidupannya.
Tanpa perpustakaan yang hidup, sekolah kehilangan denyut literasinya. Tanpa literasi yang hidup, pendidikan kehilangan rohnya. Dalam konteks inilah, guru memegang peran penting.
Guru bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu, bukan pula sekadar penyampai isi kurikulum. Guru adalah pendidik yang memberi teladan sesungguhnya.
Salah satu teladan terpenting itu adalah menjadi pembaca yang baik. Sebab, bagaimana mungkin, seorang guru menggerakkan murid-muridnya untuk mencintai buku, sementara dirinya sendiri jarang bersentuhan dengan buku?
Guru yang membaca akan mengajar dengan hati. Ia tidak hanya menyampaikan teori, tapi juga menginspirasi dengan pengalaman dan kedalaman pikirannya. Ketika guru membawa buku ke kelas, mengutip isi bacaan, atau bercerita tentang buku yang baru dibacanya, sesungguhnya ia sedang menanamkan nilai bahwa membaca itu menyenangkan, membaca itu berguna, membaca itu hebat dan keren.
Buku yang dibawa dan dibacanya itu bukan sekadar buku teks pelajaran, tapi buku-buku pengayaan lainnya yang menguatkan isi materi yang ia sampaikan.
Perpustakaan yang hidup selalu tumbuh bersama guru-guru pembaca.
Mereka datang ke perpustakaan bukan hanya untuk mengisi daftar hadir, tapi untuk mencari ide mengajar, berdiskusi dengan pustakawan, atau sekadar berbagi bacaan dengan murid.
Di sinilah kerja kolaboratif antara guru dan pustakawan menjadi penting. Mereka berdua harus menjadi penggerak utama literasi di sekolah.
Pustakawan sekolah bukan sekadar mengurus buku, sebaliknya menjadi motor penggerak budaya baca. Pustakawan bukan hanya mencatat jumlah buku dan pengunjung yang datang, tapi juga merancang program yang membuat perpustakaan menjadi magnet pengetahuan.
Pustakawan sejati adalah pendidik dalam diam, yang mengatur strategi agar anak-anak betah datang, membaca, berdiskusi, dan berkarya. Terkadang mereka lebih banyak bekerja di belakang layar.
Bersama guru, pustakawan dapat menciptakan berbagai kegiatan kreatif seperti “Satu Buku Satu Cerita,” di mana setiap siswa menceritakan kembali buku yang telah dibacanya di depan teman-temannya. Atau “Sudut Inspirasi Guru,” di mana guru menulis refleksi singkat tentang buku yang ia baca dan menempelkannya di papan literasi.
Ada pula “Sabtu Membaca,” kegiatan serentak di mana seluruh warga sekolah dari kepala sekolah hingga petugas kebersihan membaca bersama selama 15 menit. Termasuk menulis bersama.
Program seperti ini sederhana memang, tapi punya daya jangkau luar biasa. Ia mengubah kebiasaan, menanamkan nilai, dan perlahan menumbuhkan budaya literasi. Namun, syaratnya, harus konsisten, tidak sekadar seremonial.
Salah satu langkah paling kreatif untuk menghidupkan perpustakaan sekolah adalah menggerakkan buku keluar dari rak dan ruangan. Buku harus hadir di tempat-tempat yang tak terduga, seperti di taman sekolah, di kantin, di depan ruang guru, di bawah pohon rindang tempat anak-anak biasa bermain, dan lainnya.
Konsep ini bisa disebut perpustakaan berjalan atau perpustakaan bergerak, taman baca mini, atau pohon literasi.
Beberapa sekolah bahkan membuat “Gerobak Baca”, sebuah rak buku keliling yang didorong ke kelas atau halaman sekolah setiap hari. Anak-anak bisa membaca saat istirahat tanpa harus datang ke ruang perpustakaan.
Ada juga “Kotak Buku Kelas”, di mana setiap kelas memiliki koleksi mini hasil sumbangan siswa, guru, atau orang tua.
Perpustakaan pun bisa berkolaborasi dengan OSIS, ekstrakurikuler, atau komunitas literasi setempat untuk menggelar peluncuran buku, bedah buku, temu penulis, lomba resensi, hingga pameran dan bazar buku.
Bahkan, dengan dukungan teknologi, perpustakaan bisa memiliki kanal digital di media sosial sekolah, tempat siswa menulis ulasan buku atau menampilkan karya tulis mereka.
Perpustakaan yang hidup bukanlah hasil kerja satu orang, tapi buah dari semangat kolektif seluruh warga sekolah.
Kepala sekolah yang memberi ruang dan anggaran, guru yang memberi contoh, pustakawan yang berkreasi, siswa yang antusias membaca, hingga orang tua yang ikut mendukung. Semua menjadi bagian dari ekosistem literasi yang sehat.
Ketika perpustakaan bergerak, seluruh sekolah ikut bergerak. Saat buku-buku dibaca, pikiran-pikiran tumbuh. Di sanalah letak napas kehidupan sekolah: dalam kata-kata yang dibaca, dalam ide yang dikembangkan, dan dalam percakapan yang lahir dari halaman-halaman buku.
Di sana anak-anak belajar mencari, bukan sekadar menerima; berpikir, bukan sekadar menghapal; berimajinasi, bukan sekadar meniru.
Jika guru adalah pelita yang menuntun, maka perpustakaan adalah minyak yang membuat pelita itu tetap menyala. Keduanya tak terpisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Perpustakaan memberi sumber, guru memberi penguatan dari telaga ilmu pengetahuan itu.
Ketika perpustakaan dijaga, dirawat, dan dihidupkan oleh seluruh warga sekolah, maka sesungguhnya sekolah itu telah memiliki jantung yang sehat. Jantung yang memompa pengetahuan, menyalurkan nilai, dan menghidupkan semangat belajar sepanjang hayat.
Selamat memperingati Hari Perpustakaan Sekolah Internasional, 18 Oktober. Bagaimana kondisi perpustakaan di sekolah Anda? Apa saja program literasi yang rutin digelar? Ramai atau sepi kunjungannya? Buku apa paling banyak dipinjam dan dibaca? (MUHAMMAD SUBHAN)
TAGGED:Muhammad Subhan
Share This Article
Facebook Twitter Email Copy Link Print
Leave a Comment Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

HOT NEWS

Fakultas Dakwah Unisba Perkuat Jejaring Islam lewat Kunjungan Strategis ke Lombok
Delegasi Unisba dalam kunjungan ini melibatkan sejumlah pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan I Muhammad Fauzi Arif, S.Sos.I., M.I.Kom., Wakil Dekan II Dr. Nia Kurniati, Dra., M.Si., Ketua Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Malki Ahmad Nasir, S.Ag., M.Irk., Ph.D., serta jajaran Badan Penjaminan Mutu.(foto: komhumas unisba)

Fakultas Dakwah Unisba Perkuat Jejaring Islam lewat Kunjungan Strategis ke Lombok

KOTA BANDUNG, PRIPOS.ID – Dalam semangat memperluas kolaborasi dan memperkuat sinergi antarperguruan tinggi Islam, Fakultas…

June 2, 2025
FK Unisba Buka Open House USM Gelombang 2 TA 2025/2026, Teguhkan Komitmen Akademik dan Spirit Islam
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menggelar kegiatan Open House untuk jalur Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) melalui Ujian Saringan Masuk (USM) Gelombang 2 Tahun Akademik 2025/2026.(foto: komhumas unisba)

FK Unisba Buka Open House USM Gelombang 2 TA 2025/2026, Teguhkan Komitmen Akademik dan Spirit Islam

KOTA BANDUNG, PRIPOS.ID — Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menggelar kegiatan Open House untuk…

June 2, 2025
Peluncuran Berita Pilihan Google melibatkan 34 penerbit nasional dan lokal. Lewat program ini, pembaca disuguhi konten berita yang telah dikurasi dan dilisensikan secara resmi, yang langsung diarahkan ke situs masing-masing media. Sebagai bagian dari kemitraan, Google memberikan kompensasi kepada para penerbit guna menunjang keberlanjutan produksi berita mereka.(foto: ist)

AMSI Sambut Hangat Google News Showcase, Serukan Platform Digital Lain Segera Ikut Ambil Peran

JAKARTA, PRIPOS.ID — Langkah Google meluncurkan News Showcase atau Berita Pilihan di Indonesia pada Rabu…

June 2, 2025

BACA JUGA

Sudah 11 Tahun Perayaan Hari Santri : Jangan Berhenti pada Sarung dan Seremoni

Oleh :  M Kh Rachman Ridhatullah Founder & CEO Padepokan Dakwah Kreatif Bandung  Pengasuh Pesantren Kreatif Masa Senja (PKMS) Bekasi…

AgamaOpini
October 23, 2026

Follow US: 

Copyright ©Pripos.id 2024 – Semua Hak Cipta Dilindungi Undang-undang

  • Tentang Kami
  • Disklaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kontak Kami
Reading: Sudahkah Perpustakaan Menjadi Jantung Literasi Sekolah?
Share
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?