“Pancasila tidak lahir karena para pendiri bangsa tidak berbeda. Pancasila lahir karena mereka mampu mengelola perbedaan,” kata Fuady.
Menurut Fuady, pelajaran tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat digital yang mudah terbelah oleh perbedaan pandangan politik, identitas, maupun sumber informasi. Media sosial dan algoritma memungkinkan orang terus-menerus bertemu dengan informasi yang sesuai dengan pandangannya sendiri, sementara pendapat berbeda semakin mudah dianggap sebagai ancaman. Dalam kondisi seperti itu, nilai Bhinneka Tunggal Ika menurutnya perlu dimaknai secara lebih kontekstual.
“Dulu kita belajar Bhinneka Tunggal Ika untuk hidup dengan tetangga yang berbeda. Hari ini kita juga harus belajar Bhinneka Tunggal Ika untuk hidup dengan timeline yang berbeda,” ujarnya.
Fuady mengatakan pembumian Pancasila tidak cukup diukur dari kemampuan seseorang menghafal lima sila. Nilai Pancasila justru terlihat dari cara masyarakat memperlakukan orang yang berbeda, menyikapi perbedaan pendapat, menjaga ruang publik, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok. Karena itu, sosialisasi menurutnya perlu bergerak dari hafalan menuju pemahaman, dari penyampaian satu arah menuju dialog, serta dari slogan menuju praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.


