Tamara juga dipercaya sebagai tour guide Bandung City Tour, mendampingi delegasi dari Libya, Taiwan, Australia, dan Inggris. “Awalnya saya sempat bentrok dengan jadwal kepanitiaan PPMB fakultas tapi setelah diskusi dengan Bu Nety Kurniaty, akhirnya saya bisa ikut. Ini pengalaman luar biasa,” katanya.
Tantangan terbesar, lanjut Tamara, adalah saat H-1 acara ketika ia harus menjemput kloter delegasi di bandara hingga pukul 18.00. “Saya mengurus sekitar 30 orang dari dua bus, sebagian besar panitia tidak fasih berbahasa Inggris, jadi saya yang mengoordinasi semuanya,” tutur Tamara.
Meski sempat jatuh sakit di hari terakhir, Tamara mengaku pengalaman empat hari menginap di Ciater, Subang, bersama para delegasi senior pramuka sangat berkesan. “Banyak pelajaran soal kesabaran dan cara menghadapi lansia yang hangat dan ramah,” tambahnya.
Sementara itu, Daffa menuturkan bahwa ia tidak lagi merasa takut atau minder berinteraksi dengan para delegasi. “Alhamdulillah saya sudah terbiasa menyambut dan mendampingi tamu mancanegara,” ungkapnya. Tantangan terbesar justru muncul saat menjadi MC di acara Welcome Dinner, ketika banyak perubahan teknis mendadak yang memaksa susunan acara dirombak. “Saya dan Tamara sebagai MC cukup kesulitan, tetapi Alhamdulillah semuanya berjalan lancar,” ujarnya.


