Warga yang hadir pun merasakan perbedaan suasana. Banyak dari mereka mengakui bahwa sebelumnya sering menghadapi acara yang hanya penuh pidato, tanpa ruang untuk berbicara. Kali ini, mereka merasa keberadaannya benar‑benar dilihat dan didengar.
Di penutup acara, Acep E. Junaedi dan jajaran pengurus tidak memberikan janji‑janji besar. Mereka hanya berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, menjaga ruang dialog tetap terbuka, dan menjadikan mendengarkan sebagai langkah pertama setiap tindakan ke depannya. Sepuluh tahun menjadi pengingat: perjalanan belum berakhir, ia baru saja memasuki babak yang lebih jujur. (Iding)***


