Sementara itu, Fuady menjelaskan bahwa perkembangan keprotokolan menuntut seorang protokoler tidak lagi hanya memahami tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan. Protokoler juga harus mampu menjalankan fungsi kehumasan melalui komunikasi yang efektif, pelayanan prima, serta kemampuan membangun pengalaman positif bagi tamu dan berbagai pemangku kepentingan.
“Keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya diukur dari tertibnya susunan acara, tetapi juga dari bagaimana tamu merasa dihargai, dilayani, dan memperoleh pengalaman yang baik. Di situlah keprotokolan menjadi bagian penting dalam membangun citra dan reputasi organisasi,” ujar dosen Fikom Unisba ini.
Sessi Praktik dan Simulasi
Selain mengikuti materi di kelas, peserta juga terlibat dalam berbagai sesi praktik, diskusi, dan simulasi yang dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus membangun karakter kepemimpinan sebagai calon anggota korps protokoler mahasiswa tertua di Jawa Barat.


