“Saatnya kampus di dalam negeri naik kelas dan terlibat dalam jejaring akademik global, bukan hanya mengirimkan mahasiswa ke luar negeri,” tegas Menteri Brian.
Menkeu Sri Mulyani menambahkan bahwa keberhasilan program bukan hanya soal seberapa banyak beasiswa disalurkan, tetapi juga bagaimana hasil jangka panjangnya berdampak nyata. Ia menekankan bahwa substansi program menjadi kunci utama, sedangkan penambahan anggaran (top-up) akan mempertimbangkan urgensi dan nilai strategisnya.
Berdasarkan data LPDP hingga pertengahan 2025, sudah tercatat 669.144 penerima beasiswa, 3.460 proyek riset yang didanai, dan 928 program kebudayaan yang berjalan. Meskipun prioritas masih diberikan kepada bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), Mendiktisaintek menegaskan pentingnya memberi ruang untuk program non-STEM yang tetap memiliki orientasi keilmuan teknologi.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik kontribusi LPDP dalam memperkuat pendidikan agama. Ia juga menekankan pentingnya kebijakan afirmatif bagi lembaga pendidikan keagamaan, termasuk fleksibilitas syarat penguasaan bahasa asing untuk calon ulama perempuan serta dukungan terhadap program moderasi beragama.
Menindaklanjuti hasil rapat, LPDP bersama Kemendiktisaintek, Kemenag, dan BRIN akan merancang langkah teknis untuk mempercepat pengembangan SDM unggul, riset kolaboratif, dan memperluas co-funding internasional. Rencana strategis ini ditargetkan selesai pada akhir Agustus 2025, dan akan dituangkan dalam keputusan Dewan Penyantun.
Transformasi LPDP melalui sinergi lintas kementerian dan kebijakan inklusif menjadi fondasi penting dalam mencetak SDM yang siap bersaing di panggung global dan memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap riset dunia.(sani/kemendiktisaintek)
