Ia menjelaskan bahwa digitalisasi menghadirkan berbagai peluang seperti akses informasi tanpa batas, pemerataan kesempatan, serta ruang partisipasi yang semakin luas. Namun, di balik peluang tersebut terdapat tantangan berupa disinformasi, krisis makna, dan polarisasi sosial yang dapat mengikis nilai-nilai kemanusiaan.
“Keluarga adalah perlindungan utama. Dalam peradaban yang bising oleh arus digital, kedudukan ibu adalah jangkar moral. Dari tangan, kata-kata, perhatian, dan kasih sayang seorang ibu, karakter generasi dibentuk,” paparnya.
Rini menekankan bahwa keluarga harus menjadi ruang hening yang menghadirkan kehangatan emosional di tengah kebisingan dunia digital. Menurutnya, keluarga tidak dibangun oleh sinyal internet, melainkan oleh prinsip mawaddah wa rahmah yang menghadirkan cinta, kasih sayang, dan kehadiran nyata dalam kehidupan sehari-hari.


