
BANDUNG, PRIPOS.ID — Pelestarian kebudayaan di Indonesia menghadapi tantangan berlapis di tengah penetrasi digital yang masif. Kaku dan formalnya pendekatan edukasi kultural selama ini dinilai acapkali berjarak dengan realitas generasi muda. Di tengah kegamangan tersebut, ruang alternatif berbasis seni edukatif (edutainment) yang digagas secara konsisten oleh musisi balada mulai memperlihatkan fungsinya sebagai perawat ingatan kolektif sekaligus fondasi karakter bangsa.
Aktivitas tersebut tercermin dari konsistensi Ferry Curtis, musisi balada asal Bandung yang selama lebih dari tiga dekade memilih jalan sunyi untuk mengawinkan seni pertunjukan dengan gerakan literasi kultural. Melalui petikan gitar akustik dan narasi puitik, ia tidak sekadar menyajikan hiburan, melainkan mentransformasikan panggung musik menjadi “ruang kelas terbuka” yang cair.



