“Musik itu jembatan harmonisasi kehidupan. Ketika lirik ditempatkan sebagai wahana diskusi dan gagasan, di sanalah proses edukasi karakter bermula,” ujar Ferry saat ditemui beberapa waktu lalu. Bagi dia, menyelamatkan masa depan kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari cara sebuah bangsa membangun kemerdekaan berpikir. Dan fondasi utama dari berpikir merdeka tersebut adalah pembiasaan literasi.
Kesadaran ini pula yang melatari lahirnya lagu ikonik “Mari Membaca” serta album kolaboratif Jangan Berhenti Membaca yang diadopsi oleh Perpustakaan Nasional RI. Upaya ini memindahkan kampanye minat baca dari sekadar angka statistik ke dalam ruang emosional masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, buku tidak lagi dipandang sebagai objek hafalan yang kaku, melainkan medium pemantik rasa ingin tahu.
Ekosistem kebudayaan
Secara sosiologis, apa yang diupayakan melalui kekaryaan musik balada ini berkelindan erat dengan konsep ruang pelestarian budaya yang holistik. Pelestarian tidak lagi dimaknai secara sempit sebagai upaya fisik merawat artefak di museum, melainkan merawat interaksi aktif antara manusia, bahasa, dan daya kritisnya.



