Melalui keluarganya saat itu, Nafis juga menitipkan salam dan ucapan terima kasih kepada seluruh dosen yang telah membimbingnya selama masa perkuliahan.
Bagi banyak orang, wisuda adalah akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Nafis, kelulusan saat terbaring sakit adalah kemenangan atas perjuangan panjang.
Ia membuktikan bahwa semangat belajar tidak selalu ditentukan oleh sehat atau sakitnya tubuh, melainkan kuatnya tekad untuk menyelesaikan amanah yang telah dimulai. Ia persembahkan kelulusannya bagi orang tua dan keluarga tercinta.
Jelang usia 24 tahun, Nafis telah berpulang. Namun kisahnya akan tetap hidup sebagai pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, melainkan juga tentang keteguhan, kesabaran, dan harapan yang terus dijaga hingga akhir.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Muhammad Nafis Hanafi, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.


