Tri juga menceritakan bagaimana tim ini melalui proses yang panjang dan intens. Setiap minggu mereka wajib melaporkan progres, melakukan rapat evaluasi, hingga beberapa kali menginap di kampus untuk menyelesaikan laporan, artikel ilmiah, konten media sosial, hingga persiapan presentasi PKP 2. Proses perbaikan proposal dilakukan berkali-kali hingga akhirnya lolos pendanaan dan melaju ke PIMNAS. Latihan tanya jawab, penyusunan poster, serta revisi luaran terus dilakukan menjelang kompetisi. Menurut Tri, karakter mahasiswa menjadi salah satu modal penting. Ia membutuhkan anggota tim yang tidak mudah tersinggung karena proses bimbingan sering kali membutuhkan koreksi tegas. Ia bersyukur seluruh anggota tim dapat bekerja dengan disiplin, saling mendukung, serta menjalankan usaha lahir dan batin, termasuk menjaga ibadah dan doa.
Tri menambahkan bahwa sejak awal ia tidak menargetkan medali emas, melainkan ingin melihat bendera Unisba berkibar di ajang nasional karena lolos ke PIMNAS saja sudah melalui proses seleksi yang sangat ketat. Dari lebih dari 33.000 proposal, hanya sekitar 1.500 yang lolos pendanaan, dan dari jumlah itu hanya 420 tim yang berhasil melaju ke PIMNAS.


