“Teknologi ini dapat mengolah sekitar satu ton sampah per jam dan berpotensi membantu mengurangi volume sampah di Kota Bandung yang mencapai lebih dari 1.500 ton per hari. Namun, teknologi saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” ujarnya.
Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., menjelaskan bahwa efektivitas pengolahan sampah menggunakan reaktor sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk, khususnya kadar airnya. Berdasarkan hasil uji coba tim, mesin dapat bekerja optimal jika kadar air sampah berada pada kisaran 20–30 persen.
“Kami pernah menguji sekitar satu ton sampah dari dua triseda yang telah dicacah dan dialirkan menggunakan conveyor. Proses pengolahannya dapat diselesaikan sekitar satu setengah jam. Artinya, jika sampah dicacah dengan baik dan kadar airnya sekitar 20 persen, mesin dapat bekerja jauh lebih optimal,” jelasnya.


