Ia menambahkan, komposisi sampah yang ideal untuk dimasukkan ke dalam reaktor adalah perbandingan satu banding empat, yakni satu bagian sampah organik dan empat bagian non-organik. Karena itu, program social engineering diarahkan untuk mendorong proses pemilahan sejak dari sumber agar kadar air sampah dapat ditekan.
Mencakup 9 RW
Tim Task Force Zero Waste Unisba juga telah memetakan kondisi pengelolaan sampah di TPS Arcamanik yang mencakup sembilan RW. Dari hasil pemetaan tersebut, wilayah diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu baik, sedang, dan kurang baik.
“Sekira 50 persen wilayah sebenarnya sudah menunjukkan pengelolaan yang cukup baik. Namun masih ada beberapa titik yang sampahnya sangat basah sehingga perlu intervensi melalui edukasi dan pendampingan, termasuk kepada tim Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah),” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si., menilai persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap Kecamatan Arcamanik dapat menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.


