Koperasi tersebut menjadi contoh penerapan social engineering dengan melibatkan ibu-ibu anggota dalam berbagai kegiatan, mulai edukasi pengelolaan sampah, pembelajaran bahasa Inggris, pemanfaatan bahan sisa menjadi kerajinan 3R, hingga pengolahan food waste menjadi pakan ternak. Produk olahan seperti telur bebek berhasil dipasarkan ke masyarakat sekitar.
Selain itu, sampah plastik dipilah untuk dijual atau diolah menjadi produk bernilai tambah. Rumah tangga di tiga RW sekitar pun telah rutin memilah sampah sejak dari rumah sehingga pengolahan di koperasi berjalan lebih efektif.
Ketua tim, Imam Indratno menjelaskan bahwa reaktor plasma ini menggunakan teknologi plasma dingin dengan suhu lebih rendah dibanding insinerasi konvensional sehingga lebih efisien, selektif, dan beremisi rendah. Reaktor memiliki kapasitas pemrosesan 0,5–1 ton per jam, konsumsi listrik 6.000 watt, residu hanya 0,5 persen, serta suhu operasi di atas 1.000 °C. Desain reaktor mencakup diameter pembakaran 760 mm dengan tinggi 2.600 mm, cyclone berdiameter 760 mm dengan tinggi 2.700 mm, serta tong penampung berdiameter 380 mm dan tinggi 450 mm.