Ia menambahkan, topik yang dibawakan tidak jauh dari disertasi doktornya yang membahas pencegahan ekstremisme melalui pendidikan agama Islam. “Karena latar belakang saya di pendidikan agama Islam dan disertasi saya sudah tersebar di perpustakaan, pihak fakultas mengetahui tema tersebut dan akhirnya mengundang saya. Namun mereka juga meminta tambahan terkait perkembangan ekstremisme di Indonesia serta kaitannya dengan pembentukan moral dan pendidikan,” jelasnya.
Peserta kuliah tamu ini merupakan mahasiswa magister (S2) bidang Arts and Humanities dengan fokus Global Affairs. Setiap kelas diikuti sekira 50 mahasiswa, termasuk beberapa mahasiswa asal Indonesia. Dalam diskusi, isu ekstremisme dan radikalisme dibahas sebagai bagian dari problematika global yang membutuhkan pendekatan multidisipliner.
Imam menegaskan bahwa fenomena ekstremisme di Indonesia tidak muncul secara instan. “Secara umum, terorisme dan ekstremisme di Indonesia tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses sejarah, perubahan sosial, pengaruh ideologi, dan kini juga diperkuat oleh ruang digital. Bentuknya terus berubah, dari gerakan terorganisasi hingga pola yang lebih cair, digital, dan tersebar,” paparnya.