Sebaliknya, Reuni 212 tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial-politik yang menyertainya. Aksi yang bermula dari peristiwa politik pada tahun 2016 ini telah berkembang menjadi ajang silaturahmi akbar yang sarat simbol identitas. Redaksi menghormati semangat kebersamaan peserta, namun tetap menilai bahwa Reuni 212 tidak memiliki unsur perumusan gagasan keagamaan yang mendalam. Ia lebih tepat dibaca sebagai fenomena mobilisasi publik ketimbang forum keulamaan.
Redaksi juga menilai bahwa perbedaan peserta mencerminkan watak acara yang mendasar. Ijma Ulama Internasional mempertemukan para ilmuwan dan cendekiawan Islam yang memiliki otoritas keilmuan, sementara Reuni 212 digerakkan oleh massa luas dari berbagai lapisan. Perbedaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menentukan kualitas diskusi yang lahir dari masing-masing kegiatan. Forum ilmiah dan aksi massal tentu tidak dapat disetarakan.


