Dalam konteks dampak, redaksi menegaskan bahwa Ijma Ulama Internasional memberikan kontribusi jangka panjang bagi pengembangan pemikiran Islam dan kebijakan keagamaan. Adapun Reuni 212 lebih sering berimplikasi pada dinamika politik nasional. Oleh karena itu, media perlu secara jernih membedakan mana kegiatan yang berorientasi pada penguatan keilmuan dan mana yang fokus pada mobilisasi sosial.
Pada akhirnya, redaksi mengajak masyarakat untuk memandang kedua perhelatan tersebut secara proporsional. Indonesia membutuhkan ruang keilmuan yang kuat seperti Ijma Ulama Internasional, namun juga harus bijak menyikapi gelombang mobilisasi massa seperti Reuni 212. Keduanya memiliki tempat masing-masing dalam kehidupan demokrasi dan keberagaman Indonesia, asalkan dipahami sesuai konteks dan proporsinya.


