Pada materi pengabdian FK Unisba, alat yang dirancang memanfaatkan aliran udara hangat dan ruang pengering dengan rak untuk menempatkan bahan. Udara lembap dikeluarkan agar proses pengeringan berlangsung lebih terkendali dibanding penjemuran terbuka. Rancangan skala kelompok memiliki kapasitas sekitar 10–20 kilogram bahan per proses, dengan komponen yang diupayakan mudah dioperasikan dan dibersihkan. Ketersediaan listrik di lokasi juga menjadi pertimbangan penting. Artinya, keberhasilan inovasi tidak cukup diukur dari kecanggihan desain. Teknologi harus cocok dengan kondisi energi, kapasitas panen, kemampuan operator, dan biaya perawatan setempat. Evaluasi kinerja alat, termasuk keseragaman hasil pengeringan dan konsumsi energi, tetap diperlukan sebelum manfaat teknisnya dapat dinyatakan secara pasti.
Menghubungkan Petani dengan Riset Obat Herbal
Teknologi pengeringan sederhana menjadi jembatan antara hasil pertanian dan pengembangan obat herbal. Melalui proses pengeringan yang tepat, tanaman obat seperti jahe, kunyit, dan serai dapat diolah menjadi simplisia yang lebih tahan lama dan terjaga mutunya. Bahan ini selanjutnya dapat digunakan dalam penelitian untuk memperoleh senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi produk obat herbal melalui berbagai tahapan pengujian mutu, keamanan, dan khasiat. Inovasi ini juga membuka peluang bagi petani untuk tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk segar, tetapi menghasilkan bahan baku herbal yang memiliki nilai tambah. Melalui pelatihan dan pendampingan, petani dapat mempelajari cara pengolahan, pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan yang baik sehingga mampu mengelola hasil pertaniannya secara lebih mandiri.


