Semangat inilah yang mendorong Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) menginisiasi penerapan teknologi pengeringan sederhana bersama Kelompok Tani Hurip Barokah di Kampung Wangun, Kabupaten Bandung. Program ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan potensi tanaman obat lokal dengan kebutuhan bahan baku industri herbal sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan petani, inovasi sederhana ini diharapkan dapat menjadi awal tumbuhnya kemandirian dalam pengolahan tanaman obat. Dengan demikian, pengembangan obat herbal tidak hanya dimulai di laboratorium, tetapi juga dari tangan para petani yang mengolah hasil panennya menjadi bahan baku yang lebih berkualitas dan bernilai.
Pemberdayaan masyarakat sering dibayangkan sebagai pemberian alat. Sesungguhnya, kemandirian baru tumbuh ketika pengguna mampu menjalankan proses secara mandiri, memahami mutu hasil, memperbaiki masalah teknis, dan mengelola usaha setelah pendampingan berakhir. Inisiasi pengeringan tanaman obat di Kampung Wangun menawarkan cara pandang tersebut. Perguruan tinggi membawa pengetahuan tentang proses, mutu, dan pengembangan bahan alam; petani membawa pengalaman budidaya dan pemahaman atas kondisi lapangan. Pertemuan keduanya dapat melahirkan inovasi yang bukan hanya dapat bekerja di laboratorium, tetapi juga masuk akal untuk diterapkan di desa.


