Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi bagi santri dalam mengembangkan minat dan bakat di bidang digital sekaligus menyuarakan kepedulian lingkungan.
Ketua tim PKM, Mohamad Subur Drajat, menegaskan bahwa program ini merupakan model integratif antara nilai keislaman, pendidikan, dan aksi lingkungan berbasis komunitas.
“Kami ingin membangun ketahanan pesantren yang hidup dalam praktik, bukan sekadar konsep. Kompos berkelanjutan ini adalah pintu masuk untuk menanamkan kesadaran ekologis yang berakar pada nilai Islam, serta diperkuat dengan kemampuan komunikasi santri di era digital,” ujarnya.
Dengan pendekatan ABCD yang bersifat partisipatif, PKM ini akan mampu menguatkan potensi yang sudah dimiliki pesantren, di mana ustadz dan para santri adalah penggerak utamanya. Ketika kesadaran lingkungan itu tumbuh dari dalam maka keberlanjutan program akan terjaga di pesantren.


