“Kendala utama saat ini adalah input sampah yang masih membutuhkan pemilahan. Idealnya, pemilahan dilakukan di sumber. Kami berharap ada dukungan pemerintah daerah untuk membangun sinergi dari rumah tangga hingga TPS sehingga kapasitas produksi pengelolaan sampah bisa meningkat dan lebih efektif,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa solusi pengelolaan sampah yang ditawarkan Unisba bersifat terintegrasi, mencakup teknologi reaktor plasma dingin, pengolahan food waste, serta pendekatan socio-engineering untuk membangun budaya pemilahan sampah di masyarakat.
Sekda Provinsi Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, dan Unisba terkait penggunaan teknologi reaktor plasma masih dalam tahap pengembangan.
“Prosesnya masih berjalan. Kapasitas saat ini berkisar 1,5 hingga 2 ton per hari, dengan harapan dapat meningkat hingga 5 ton. Dari sisi polusi, hasil sementara menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik, dan kita terus dorong menuju minimal polusi,” ungkapnya.


