Pilar kedua adalah High-Touch, yaitu kemampuan menjaga empati, koneksi kemanusiaan, serta kecerdasan emosional di tengah derasnya arus otomatisasi. “High-Touch berarti menggunakan media digital bukan untuk mengisolasi diri tetapi untuk memperluas jangkauan kasih sayang atau rahmah,” jelasnya.
Sementara itu, pilar ketiga, High-Soul, yang menjadi fondasi utama. Ia menegaskan bahwa di tengah akselerasi teknologi, cendekiawan harus memiliki jangkar spiritual agar tidak terjebak dalam materialisme digital. “High-Soul adalah integrasi nilai-nilai tauhid dan akhlakul karimah dalam setiap aktivitas intelektual,” tambahnya.
Lebih lanjut, Harits menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan juga ujian keimanan dan intelektualitas. Ia menekankan bahwa cendekiawan muslim tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi tetapi harus menjadi penentu arah peradaban.


