“Prinsip utamanya adalah bagaimana melahirkan insan yang memiliki karakter 3M, yaitu Mujahid sebagai pejuang, Mujtahid sebagai pemikir, dan Mujaddid sebagai orang yang memiliki semangat pembaruan,” katanya.
Ia pun berpesan kepada peserta agar tidak berkecil hati bagi yang masih dalam tahap belajar membaca Al-Qur’an. Menurutnya, proses belajar merupakan bagian penting dari pembinaan dan memiliki nilai ibadah.
“Bagi yang dalam proses pembinaan dan masih terbata-bata, tetap semangat. Ini merupakan bentuk perhatian kita,” ujarnya.
Helmi juga berharap ke depan pembinaan dapat dikembangkan tidak hanya bagi peserta yang masih meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga bagi mereka yang sudah mahir, misalnya melalui kajian atau telaah Al-Qur’an.
Setelah pembukaan, Dr. Muhammad Yunus, S.H.I., M.E.Sy., mewakili panitia menyampaikan informasi teknis mengenai pelaksanaan pembinaan kepada para peserta.


