Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan pentingnya konsolidasi antarkampus melalui pembentukan konsorsium perguruan tinggi di Kota Bandung. Kementerian, lanjutnya, siap memberikan dukungan pendanaan riset guna memperkuat pemetaan persoalan, rekayasa sosial, serta inovasi teknologi pengelolaan sampah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, S.E., dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah di Kota Bandung tidak hanya terletak pada aspek teknis tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat. Dengan timbulan sampah mencapai 1.597,85 ton per hari dan ketergantungan terhadap TPA yang masih tinggi, Pemerintah Kota Bandung terus mendorong penguatan pemilahan sampah dari sumber.
Ia menjelaskan bahwa berbagai strategi telah dijalankan, di antaranya melalui program Gasla (Petugas Pemilah dan Pengolah) yang ditempatkan di setiap RW, pengembangan pengolahan sampah organik seperti magotisasi dan eco-enzyme, serta penerapan sistem monitoring digital berbasis data real-time. Selain itu, Pemkot Bandung juga menyiapkan rekayasa sosial jangka menengah guna membangun budaya sadar pilah di tingkat rumah tangga.