“Mesin ini kami kembangkan menggunakan metode reverse engineering dengan mempelajari teknologi yang sudah ada, kemudian kami tingkatkan produktivitas dan keseragamannya,” jelasnya.
Berdasarkan uji coba, mesin tersebut mampu menghasilkan butiran granul yang lebih seragam dibandingkan teknologi sebelumnya. Setelah dilakukan pengujian laboratorium, granul organik yang diproduksi telah memenuhi standar SNI No. 7763:2024.
Satori menegaskan bahwa inovasi ini memiliki kontribusi strategis. “Dengan kualitas yang sudah sesuai standar, teknologi ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional sejalan dengan Asta Cita Pemerintah,” katanya.
Penelitian ini diharapkan menjadi langkah penting dalam pengelolaan sampah organik sekaligus penguatan ekosistem pertanian berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.(ask/png)