Literasi Digital Menjadi Benteng Keluarga
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian khusus adalah tantangan keluarga di era digital. Kiki menilai bahwa perkembangan teknologi menghadirkan peluang sekaligus ancaman yang harus dihadapi dengan kesiapan dan pengetahuan.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai oleh anak-anak perlu mendapatkan pendampingan serius dari orang tua karena berbagai persoalan seperti kecanduan media sosial, hoaks, pornografi, kekerasan digital, hingga perundungan siber semakin mudah diakses.
“Ibu-ibu tidak harus menjadi ahli teknologi, tetapi harus terus belajar. Literasi digital merupakan bagian dari dakwah. Tanpa memahami dunia digital, kita akan sulit mendampingi anak-anak menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.
Menurut Kiki, perempuan bukan hanya penerima hasil pembangunan, tetapi juga pelaku utama perubahan. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui empat bidang utama, yaitu membangun keluarga yang berakhlak, menguatkan organisasi perempuan, melindungi keluarga dari dampak negatif teknologi digital, serta meningkatkan kualitas perempuan melalui pendidikan dan pemberdayaan.
Ia juga menilai bahwa organisasi perempuan seperti Wanita Islam memiliki peran strategis karena bersentuhan langsung dengan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, organisasi perlu terus berkembang menjadi pusat pembelajaran, pemberdayaan, berbagi pengalaman, sekaligus penggerak aksi sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


